JATIMTIMES – Fenomena perubahan iklim dan pemanasan suhu udara kini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat di Kota Batu. Perubahan kondisi lingkungan yang membuat suhu Kota Batu tak lagi sedingin dulu terbukti ikut memengaruhi pola perkembangbiakan serta penyebaran nyamuk Aedes aegypti pembawa virus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Isu krusial tersebut mengemuka dalam Forum Lintas Sektor Pengendalian DBD Terintegrasi Berdasarkan Rencana Aksi Nasional (RAN) 2026-2029 yang diinisiasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu di Balai Kota Among Tani, Kamis (6/8/2026).
Baca Juga : Turnamen Catur Bahagia SIWO PWI Malang Raya Pertandingkan Puluhan Wartawan dengan Tokoh Instansi Kota Batu
Kepala Dinkes Kota Batu, Aditya Prasaja, mengungkapkan bahwa perubahan iklim yang dipadu dengan pesatnya laju pemukiman serta urbanisasi di Kota Batu menciptakan ruang baru bagi potensi lonjakan kasus DBD jika tidak diantisipasi secara terintegrasi.
"Ada dampak perubahan iklim di mana suhu di Kota Batu kini tidak sedingin dulu. Kondisi ini ikut memengaruhi pola penyebaran nyamuk Aedes aegypti. Ditambah lagi pertumbuhan penduduk dan pemukiman kita sangat signifikan," kata Aditya Prasaja.
Selain faktor cuaca dan dinamika kawasan, Aditya menyoroti hambatan teknis di lapangan yang dipicu oleh adanya perbedaan (disparitas) data diagnosis antara pihak rumah sakit dengan kriteria program yang digunakan Dinkes dan Puskesmas.
Sebagai gambaran, data Dinkes mencatat tren kasus DBD sempat melonjak tajam pada 2024 dengan 442 kasus DBD dan 447 Demam Dengue (DD). Angka tersebut berhasil ditekan pada 2025 menjadi 165 kasus DBD dan 253 DD.
Namun hingga Juni 2026, ketidaksesuaian data kembali ditemukan. Diagnosa rumah sakit mencatat 69 kasus DB dan 13 DBD, sementara kriteria program puskesmas mencatat 66 kasus DD dan 7 DBD.
"Masih ada pembenahan antara yang disampaikan rumah sakit dengan kami yang harus melakukan ceklis kriteria program. Perbedaan data ini membuat tindak lanjut penanganan di lapangan kadang belum maksimal," terang pria yang disapa Adit itu.
Oleh sebab itu, forum lintas sektor ini difokuskan untuk menjembatani perbedaan data klinis tersebut agar petugas medis di tingkat tapak memiliki kepastian langkah intervensi.
Baca Juga : Tangani Kebakaran Hutan Bromo, BNPB Siapkan Helikopter Water Bombing hingga OMC
Dinkes Kota Batu juga menekankan penguatan langkah pencegahan primer melalui optimalisasi sistem surveilans dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara masif di lingkungan masyarakat.
Kapasitas petugas kesehatan lingkungan di tiap desa dan kelurahan akan terus ditingkatkan untuk memantau titik-titik rawan genangan air di kawasan padat penduduk.
Melalui konsolidasi ini, Pemkot Batu optimistis penanganan DBD dapat berjalan lebih presisi, responsif, dan terukur sesuai acuan Rencana Aksi Nasional 2026-2029.
"Harapannya melalui pertemuan ini kita bisa menyepakati tatalaksana klinis yang sama dan mendapatkan rencana tindak lanjut yang konkret demi melindungi masyarakat Kota Batu," pungkas Adit.
