JATIMTIMES - Upaya pelestarian budaya Malangan kini memasuki babak baru. Di tengah gelaran Festival Kampung Budaya Polowijen (KBP) #9, Minggu (15/2/2026), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Malang resmi meluncurkan KBP Digital, platform dokumentasi budaya berbasis daring yang digagas mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026.
Peluncuran dilakukan langsung oleh Kepala LPPM UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP, dalam suasana khidmat prosesi Megengan dan Wilujengan. Kehadiran platform ini menjadi penanda transformasi Kampung Budaya Polowijen dari ruang budaya berbasis tradisi lisan menuju bank data digital yang bisa diakses lintas generasi.
Baca Juga : Salah Kaprah Arti Gong Xi Fa Cai
KBP Digital dirancang sebagai pusat arsip budaya yang memuat e-book serta dokumentasi beragam kekayaan lokal, mulai dari Topeng Malang, Batik Malang, Wayang Malang, anyaman bambu, gerabah, pawon tradisional, hingga kuliner khas Malang. Seluruh konten dapat diakses melalui pemindaian barcode yang terhubung ke Linktree, memudahkan masyarakat menjelajahi informasi secara praktis.
Prof. Sutawi menegaskan, digitalisasi bukanlah bentuk pengaburan tradisi, melainkan strategi menjaga keberlanjutan budaya di tengah perubahan zaman.
“Budaya harus didata, didokumentasikan, dan dipublikasikan. Modernisasi itu perlu, dan digitalisasi menjadi salah satu cara agar budaya tetap hidup dan dikenal luas,” ujarnya.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan warisan budaya tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga tersimpan secara ilmiah dan terdigitalisasi.
Peluncuran ini turut disaksikan Kepala Lembaga Kebudayaan UMM Dr. Daroe Wahyutiningsih selaku dosen pendamping lapangan, Analis Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Rendra Fatrisna Kurniawan, serta Camat Blimbing I Ketut Widi Eka Wirawan.
Sementara itu, Ki Demang selaku penggagas Kampung Budaya Polowijen menyebut KBP Digital lahir melalui proses panjang pembelajaran dalam program Sinau Budaya. Para mahasiswa tidak hanya melakukan dokumentasi, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik kebudayaan, mulai dari membatik, mengolah kuliner tradisional, hingga produksi konten budaya.
Baca Juga : Sakura 2026 Kembali Hadir, 13 Mahasiswa Jepang Dalami Bahasa dan Budaya di STIE Malangkucecwara
“Mereka belajar langsung di lapangan. Ini bukan sekadar proyek digital, tetapi bagian dari laku budaya bersama,” ungkapnya.
Festival KBP #9 sendiri berlangsung sejak pagi dengan berbagai agenda. Kegiatan diawali Tandur Karang Kitri berupa penanaman KRPL dan tanaman toga sebagai simbol ketahanan pangan. Dilanjutkan Workshop Busana Khas Malang yang mengangkat praktik membatik, berkebaya, berkain, bersanggul, dan berudeng.
Memasuki siang hingga sore, panggung seni menampilkan tari tradisional, cerita rakyat oleh anak-anak Polowijen, hingga tembang dolanan sebagai bentuk regenerasi nilai budaya. Puncak acara ditandai dengan prosesi Megengan, peluncuran KBP Digital, wilujengan, serta ditutup Nyadran dan arak-arakan topeng sebagai simbol penghormatan leluhur.
Hadirnya KBP Digital mempertegas bahwa pelestarian budaya tidak harus berseberangan dengan teknologi. Justru melalui pendekatan digital, Kampung Budaya Polowijen menunjukkan bahwa tradisi dapat beradaptasi, terdokumentasi, dan menjangkau khalayak yang lebih luas, tanpa kehilangan akar nilai lokalnya.
