DLH Kota Batu Petakan Ulang 273 Titik Mata Air di Tiga Kecamatan
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Nurlayla Ratri
02 - May - 2026, 04:25
JATIMTIMES – Pelestarian lingkungan di Kota Batu masih menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir. Selain kondisi lingkungan di kawasan hulu, keberadaan sumber mata air dan kondisinya tengah dipertanyakan di tengah masifnya alih fungsi lahan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu bakal memutakhirkan data terhadap ratusan mata air yang tersebar di wilayah Kota Batu. Sebelumnya, DLH belum memiliki data secara internal yang terakumulasi dan terverifikasi.
Baca Juga : 36 Tahun Color Models Inc, Perjalanan Panda yang Tak Pernah Takut Bermimpi
Sebanyak 273 titik sumber terdata oleh pegiat lingkungan Lembaga Swadaya Masyarakat Sapu Bersih Nyemplung Kali (Sabers Pungli) Kota Batu dan sempat diserahkan ke Pemkot Batu. Namun, upaya pencarian dan pencatatan titik sumber tersebut belum rampung.
Berbekal data awal tersebut, pendataan ulang dilakukan sebagai upaya proteksi hukum dan fisik untuk menjamin keberlanjutan sumber daya air di tengah masifnya pembangunan.
Pemutakhiran data ini mencakup identifikasi lokasi secara akurat melalui koordinat geografis, pemantauan debit air, hingga evaluasi kondisi tutupan lahan di sekitar sumber. Langkah ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menetapkan zona perlindungan yang lebih ketat.
"Yang dirilis Saber pungli dengan 273 titik dan itu belum semua, namun perlu untuk dijadikan sebagai baseline kalkulasi awal untuk pemetaan berikutnya. Apakah itu sumber mata air utama atau anak-anak sumber atau mungkin rembesan, itu yang perlu dikalkulasi bersama," ujar Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni Kurniawan saat ditemui, belum lama ini.
Dian menjelaskan bahwa keberadaan 273 titik mata air tersebut merupakan aset vital yang harus dipantau secara berkala. Menurutnya, perubahan penggunaan lahan di sekitar area tangkapan air menjadi tantangan utama yang harus segera diantisipasi melalui data yang valid.
"Pemutakhiran data terhadap 273 titik mata air ini penting untuk memastikan kondisi terkini di lapangan, baik dari sisi debit maupun kelestarian lingkungannya," tambahnya.
Dengan adanya basis data yang kuat, pemerintah dapat mendeteksi secara dini jika terjadi penurunan kualitas atau penyusutan debit pada sumber mata air tertentu.
Baca Juga : 36 Tahun Color Models Inc, Perjalanan Panda yang Tak Pernah Takut Bermimpi
Dian menambahkan, perlindungan mata air tidak hanya berhenti pada pendataan administratif, tetapi juga ditindaklanjuti dengan langkah di lapangan. DLH berencana memperkuat kolaborasi dengan masyarakat setempat untuk melakukan penanaman pohon di area sabuk hijau sumber air guna menjaga resapan.
"Untuk langkah revitalisasi kita menggandeng beberapa teman-teman KTH (Kelompok Tani Hutan). KTH kan macam-macam ada yang sudah punya SK Perhutanan Sosial, ada yang belum. Akan kita ajak untuk revitalisasi. Antara ekologi dan ekonomi itu kan harus seimbang," terang pria yang juga menjabat Plt. Kepala Diskumperindag itu.
Berdasarkan inventarisasi awal, persebaran mata air di Kota Batu didominasi oleh wilayah Kecamatan Bumiaji, disusul Kecamatan Batu dan Kecamatan Junrejo. Keragaman letak geografis ini memerlukan penanganan yang berbeda sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah.
Pemerintah Kota Batu berharap melalui akurasi data mata air ini, kebijakan pemanfaatan ruang di masa depan tidak akan membentur kepentingan konservasi. Perlindungan sumber air diposisikan sebagai prioritas utama untuk mendukung kebutuhan domestik masyarakat maupun sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
