Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Dari Kartasura ke Blitar: Jejak Garendi dan Darah Amangkurat III dalam Diri Shodanco Supriyadi

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Yunan Helmy

17 - Aug - 2025, 16:00

Placeholder
Lukisan realis: Raden Soeprijadi, putra Raden Darmadi dan R.Ngt Rahayu, tokoh pejuang yang memimpin pemberontakan PETA di Blitar pada 14 Februari 1945. (Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Sejarah Indonesia tak pernah benar-benar lepas dari bayang-bayang silsilah dan dendam yang diwariskan antargenerasi. Di tengah gema kemerdekaan, nama Shodanco Supriyadi menyeruak sebagai ikon pemberontakan terhadap kolonialisme Jepang.

Namun jauh sebelum itu, darah yang mengalir di tubuhnya telah menyimpan narasi panjang perlawanan. Supriyadi, yang dikenal sebagai pemimpin pemberontakan PETA tahun 1945 di Blitar, ternyata memiliki garis keturunan langsung dari Amangkurat III dan Amangkurat V (Raden Mas Garendi), raja-raja Mataram yang dikucilkan dari sejarah resmi oleh kekuasaan kolonial dan elit keraton kolaborator.

Baca Juga : Upacara Agustusan, Mbak Wali Ajak Warga Jadikan Kemerdekaan sebagai Semangat Berikan Kontribusi Positif

⁷ Artikel ini hendak menelusuri jejak darah yang menghubungkan Kartasura dengan Blitar, dari perlawanan Garendi di abad ke-18 hingga perlawanan Supriyadi pada abad ke-20.

Luka Politik: Pengasingan Amangkurat III

Amangkurat III, atau Raden Mas Sutikna, naik tahta pada 1703, namun tak lama kemudian dikudeta oleh pamannya, Pangeran Puger, yang bersekutu dengan VOC dan diangkat menjadi Pakubuwana I pada 1705. Kudeta ini menandai pecahnya Perang Suksesi Jawa I yang berlangsung hingga 1708. Dalam logika kolonial, pengasingan Amangkurat III ke Ceylon (Sri Lanka) dianggap sebagai solusi politis untuk mencegah terbentuknya oposisi dinasti. Namun dalam kerangka budaya Jawa, tindakan ini adalah pemutusan paksa dari wahyu kekuasaan—sebuah luka spiritual yang memutus hubungan antara raja dan jagad.

Bersama Amangkurat III, ratusan keluarga dan loyalisnya turut diasingkan. VOC menyusun narasi bahwa tindakan ini untuk menjaga ketertiban, tetapi sesungguhnya merupakan strategi untuk meredam kutub kekuasaan tandingan. Dengan memutus garis keturunan dari tanah asalnya, Kompeni berharap akan lahir Mataram yang baru, jinak, dan tergantung pada bayang-bayang kekuasaan kolonial.

Makam Amangkurat III

Kembalinya Darah yang Dibuang

Sejarah bergerak dalam spiral. Tiga dekade setelah pengasingan Amangkurat III, Pakubuwana II di Kartasura membuka kembali pintu untuk keturunan yang terbuang. Di bawah pengaruh Patih Natakusuma, surat diplomatik dikirim ke Batavia, memohon agar keluarga eksil dipulangkan. Permintaan itu dikabulkan. Ratusan keturunan eksil termasuk Pangeran Teposono, Pangeran Mangkunagara, dan Pangeran Jayakusuma kembali ke Jawa. Namun mereka tidak datang sebagai penguasa, melainkan sebagai simbol.

Prosesi kepulangan ini sangat simbolik. Pusaka-pusaka kerajaan dikembalikan, para keturunan eksil dianugerahi lungguh dan jabatan, tetapi kekuasaan tetap digenggam oleh elite pro-Kompani. Pemulangan ini bukan rekonsiliasi murni, melainkan reintegrasi yang dikendalikan. VOC memainkan politik simbol untuk meredam potensi ancaman dari dalam.

Pangeran Teposono

Retna Dumilah dan Kebangkitan Keluarga Tepasana

Dari peristiwa pemulangan itulah, keluarga Tepasana yang merupakan keturunan Pangeran Teposono kembali muncul dalam pusaran sejarah Mataram. Dari garis keturunan yang disingkirkan itulah, benih kekuasaan justru kembali tumbuh, perlahan namun pasti, melalui kelima anaknya yang menempuh jalan hidup berbeda namun menuju satu tujuan: pemulihan martabat keluarga.

Anak sulung, Raden Wiratmaja, memilih jalan senyap sebagai bangsawan biasa. Ia tidak mencolok, tetapi keberadaannya menjaga nama keluarga tetap hidup di lingkaran aristokrasi Jawa. Salah satu saudara perempuannya dinikahkan dengan Ki Puspadirja dari Batang, kerabat Ki Tumenggung Batang yang pernah merasakan pahitnya pengasingan. Satu putri lagi diperistri oleh Pangeran Buminata, anggota penting dalam jejaring aristokrat keraton. Namun di antara mereka semua, Retna Dumilah berdiri paling menonjol: seorang perempuan yang bukan hanya cantik dan memesona, tetapi cerdas dan berhati baja. Ia menembus pagar istana dan menjadi istri Sunan Pakubuwana II. Pernikahan itu bukan sekadar ikatan darah, melainkan isyarat bahwa keluarga yang dahulu dicampakkan kini telah kembali menyusup ke jantung kekuasaan.

Pakubuwana II

Lalu muncullah Raden Mas Garendi, si bungsu, yang kelak dikenal sebagai Sunan Kuning. Dalam dirinya, luka pengasingan berubah menjadi api pemberontakan. Ia tidak datang sebagai tamu yang mengetuk pintu, melainkan sebagai badai yang mengguncang dinding Kartasura dari dalam dan luar. Ia bukan sekadar keturunan raja yang terusir, tetapi simbol dendam sejarah yang bangkit dalam wujud politik dan perlawanan bersenjata.

Melalui mereka berlima, garis darah Amangkurat III membuktikan bahwa kekalahan bukan akhir dari kekuasaan, melainkan awal dari strategi panjang. Mereka tidak merebut kembali takhta dengan angkara murka, tetapi menyusup pelan-pelan melalui pernikahan, loyalitas pura-pura, dan jaringan sosial yang dibangun dari reruntuhan kehormatan. Sejarah keluarga Tepasana adalah kisah tentang bagaimana politik Jawa bekerja dalam diam: sabar, licin, penuh perhitungan, namun tetap menyimpan bara api dari masa lalu.

Raden Mas Garendi, yang kelak dikenal sebagai Sunan Kuning, sempat diterima di lingkungan keraton. Namun penerimaan itu bersifat rapuh. Di balik gestur politik yang tampak damai, tersimpan kegelisahan di kalangan elite istana. Darah pemberontak kini hidup di dalam tembok kerajaan.

Ketika harapan akan penyatuan memudar, Garendi justru tampil sebagai lambang tandingan kekuasaan. Ia tidak hanya membawa legitimasi darah Mataram, tetapi juga memikul harapan rakyat yang kecewa terhadap struktur feodal yang telah berkompromi dengan kekuasaan asing. Dalam sosoknya, muncul bayangan tentang masa depan yang berbeda, lahir dari luka dan pengkhianatan sejarah.

Dibentuk oleh diaspora dan luka, Garendi tumbuh dalam lingkungan multikultural yang diasuh oleh komunitas Tionghoa di Grobogan. Ia menjadi simbol perlawanan saat meletusnya Geger Pecinan (1740–1743), dan pada tahun 1742 dinobatkan sebagai Amangkurat V oleh koalisi rakyat dan laskar Tionghoa. Ia menguasai wilayah-wilayah penting seperti Kudus, Pati, dan Demak. Meski akhirnya ditaklukkan, jejaknya tetap hidup sebagai bentuk raja alternatif yang mewakili keadilan sosial, anti-kolonialisme, dan koreksi terhadap pengkhianatan dinasti.

Roro Rahayu: Ningrat Jawa Keturunan Garendi

Darah Raden Mas Garendi tidak berhenti di Kartasura. Ia mengalir melintasi generasi, menembus waktu, dan sampai ke Blitar, menyatu dalam tubuh seorang pemuda revolusioner bernama Raden Supriyadi. Melalui garis ibunya, Roro Rahayu, Supriyadi mewarisi bukan hanya darah biru keturunan raja-raja Mataram, tetapi juga jejak sejarah panjang tentang perlawanan, pengkhianatan, dan trauma kekuasaan yang terus hidup sejak abad ke delapan belas.

Roro Rahayu adalah seorang ningrat Jawa berdarah Mataram. Berdasarkan catatan silsilah keluarga yang penulis peroleh dari keluarga Raden Darmadi, ia adalah putri dari Raden Sumodihardjo, seorang tokoh lokal yang dimakamkan di Blitar. Roro Rahayu kemudian menikah dengan Raden Darmadi, mantan Wedana Gorang Gareng yang di akhir kariernya menjabat sebagai Bupati Blitar. Dari pasangan inilah lahir Raden Supriyadi, pemuda revolusioner yang kelak dikenal sebagai pemimpin pemberontakan PETA.

Raden Darmadi

Raden Sumodihardjo adalah putra dari Raden Soetodirdjo, yang dimakamkan di Kediri. Raden Soetodirdjo merupakan putra dari Raden Soetowidjojo, seorang jaksa di Wirosari, Grobogan. Garis ini bersambung ke atas melalui Raden Wirjodikromo, yang menjabat sebagai patih di Wirosari dan merupakan putra dari Raden Hadikusumo.

Baca Juga : Baru 5 Tahun di UFC, Khamzat Chimaev Jadi Juara Dunia Kelas Menengah

Raden Hadikusumo adalah putra dari Kanjeng Pangeran Tohpati, yang merupakan putra dari Kanjeng Pangeran Shipan. Kanjeng Pangeran Shipan adalah putra langsung dari Kanjeng Pangeran Kuning, yang lebih dikenal dalam babad sebagai Raden Mas Garendi atau Sunan Amangkurat V, raja muda yang diangkat rakyat dalam pemberontakan Geger Kartasura tahun 1742.

Raden Mas Garendi adalah putra dari Pangeran Teposono, putra Sunan Amangkurat III, raja Mataram yang tersingkir akibat intervensi VOC dan perpecahan dinasti. Sunan Amangkurat III sendiri adalah putra dari Sunan Amangkurat II, raja yang memindahkan pusat kerajaan  ke Kartasura pasca penghancuran Plered. Amangkurat II merupakan putra dari Sunan Amangkurat I, penguasa Mataram yang dikenal keras dan berkuasa mutlak. Amangkurat I adalah putra dari Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja terbesar Mataram yang melancarkan perang besar terhadap VOC di Batavia pada 1628–1629. Sultan Agung adalah putra dari Panembahan Hanyakrawati, dan cucu dari Panembahan Senapati ing Alaga, pendiri Kesultanan Mataram.

Dengan demikian, garis keturunan ibu Supriyadi menyambung lurus kepada raja-raja besar Mataram Islam, dari Panembahan Senapati, Sultan Agung, hingga Amangkurat V. Supriyadi bukan hanya pewaris darah bangsawan, tetapi juga beban sejarah yang tidak sederhana: sejarah konflik antara raja dan rakyat, istana dan penjajah, serta kekuasaan dan pengkhianatan. Dalam tubuhnya, darah Garendi menjelma dalam bentuk baru: semangat nasionalisme modern yang anti-kolonial, melampaui batas etnis, kasta, dan feodalisme.

Warisan ini tidak berupa takhta atau istana. Ia berupa luka kolektif dan idealisme yang tumbuh dari reruntuhan harapan sejarah. Dalam diri Supriyadi, trauma pengkhianatan Kartasura dan keruntuhan dinasti Mataram menemukan ekspresi baru dalam perjuangan revolusioner melawan penjajahan Jepang. Nasionalismenya bukan sekadar hasil pendidikan modern, melainkan juga kelanjutan dari konflik historis yang dialami oleh leluhurnya, yaitu para bangsawan buangan, pangeran pemberontak, dan raja alternatif yang digulingkan oleh kekuatan asing.

Dengan akar yang sedalam itu, Raden Supriyadi berdiri bukan hanya sebagai simbol perlawanan masa kemerdekaan, tetapi juga sebagai pewaris panjang narasi tentang hak, kehormatan, dan perlawanan—sebuah narasi yang dimulai sejak Panembahan Senapati pertama kali mengangkat keris untuk menantang Pajang dan Demak.

Makam Rngt Rahayu, ibu kandung Raden Supriyadi

Shodanco Supriyadi dan Revolusi Modern

Ketika Jepang membentuk PETA, banyak pemuda pribumi dilatih untuk menjadi alat kolonial baru. Namun Supriyadi melihat pelatihan itu sebagai peluang untuk membentuk kekuatan tandingan. Sebagai seorang shodanco, ia menyaksikan secara langsung kekejaman militer Jepang terhadap rakyat, terutama dalam proyek kerja paksa (romusha). Pada 14 Februari 1945, Supriyadi memimpin pemberontakan di Blitar, sebuah langkah nekad yang menjadi tonggak awal perlawanan bersenjata di era kemerdekaan.

Pemberontakan itu gagal. Supriyadi menghilang, dan nasibnya menjadi misteri yang belum terpecahkan. Namun secara simbolik, ia telah mengulangi jejak leluhurnya, Raden Mas Garendi, yang pada tahun 1742 memimpin pemberontakan besar mengguncang Kartasura. Dengan dukungan kelompok Tionghoa pemberontak dan rakyat kecil, Garendi menyerbu keraton, menggulingkan Pakubuwana II, dan menduduki takhta selama beberapa bulan sebelum akhirnya ditangkap dan dibuang ke Sri Lanka. Supriyadi, seperti Garendi, melawan sistem yang menindas, menolak tunduk pada kekuasaan imperialisme, dan menyerukan keadilan bagi rakyat yang tertindas.

Jika ditinjau dari perspektif historiografi kritis, Supriyadi bukan hanya pahlawan revolusi, tetapi juga pewaris narasi panjang tentang legitimasi, perlawanan, dan rekonsiliasi yang gagal. Ia bukan muncul dari kehampaan sejarah, melainkan berdiri di atas jejak-jejak leluhurnya yang dilupakan. Garendi, sebagai Amangkurat V yang tidak diakui oleh sejarah resmi, memperlihatkan bagaimana kekuasaan kolonial dan elite lokal secara sistematis menghapus narasi yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka. Supriyadi menghidupkan kembali narasi itu dalam bentuk baru: nasionalisme yang lahir dari penderitaan rakyat, bukan dari klaim atas takhta.

Ada satu kesamaan yang mencolok antara Garendi dan Supriyadi. Keduanya memimpin pemberontakan bersenjata melawan kekuasaan asing, menghilang tanpa jejak, dan tidak pernah duduk di kursi kekuasaan. Namun sejarah mengenang mereka bukan karena gelar yang mereka sandang, melainkan karena keberanian mereka menentang ketidakadilan. Garendi gagal merebut kembali Kartasura, dan Supriyadi gagal menggulingkan pendudukan Jepang. Tetapi keduanya menciptakan ingatan kolektif tentang perlawanan yang tidak tunduk pada kekalahan.

Dendam sejarah yang diwarisi dari pengasingan Amangkurat III, kebangkitan simbolik keluarga Tepasana, dan kekalahan tragis Garendi berpadu dalam tubuh seorang pemuda dari Blitar yang memilih jalan berbahaya demi kemerdekaan. Sejarah, dalam hal ini, bukan sekadar catatan kronologis, tetapi transmisi nilai, luka, dan semangat lintas generasi.

Dari Kartasura ke Blitar

Wisma Darmadi

Garis darah memang tidak selalu menentukan nasib, tetapi ia menyimpan memori-memori yang hidup dalam kesadaran kultural dan bawah sadar kolektif. Supriyadi tidak pernah secara terbuka mengklaim keturunannya, tetapi jejak historis menunjukkan bahwa ia adalah anak zamannya, seorang pemuda yang memikul warisan dari masa lalu yang tertindas. Ia mewarisi keberanian, kehalusan budi, dan semangat perlawanan dari para leluhur yang pernah dibungkam sejarah.

Dari pengasingan Amangkurat III di Ceylon, kebangkitan Garendi di Pati, hingga pemberontakan Supriyadi di Blitar, narasi ini menunjukkan bahwa sejarah Indonesia tidak pernah benar-benar selesai. Ia tidak mati, tetapi terus berulang, menjelma dalam bentuk baru, dan berdenyut dalam tubuh mereka yang berani menolak lupa.

Dengan demikian, Supriyadi bukan sekadar pahlawan masa kemerdekaan. Ia adalah simpul dari sejarah panjang perlawanan, simbol dari darah yang menolak tunduk pada kolonialisme dan feodalisme. Ia adalah gema sunyi dari Garendi yang menjelma menjadi ledakan sejarah baru.


Topik

Serba Serbi Shodanco Supriyadi Amangkurat III Amangkurat V Raden Mas Garendi Mataram



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sampang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy