Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Internasional

50 Negara Mulai Nego ke Trump Soal Kenaikan Tarif Impor, Termasuk Indonesia?

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

07 - Apr - 2025, 19:25

Placeholder
Suasana warga Amerika Serikat gelar demo di lebih dari 1.200 lokasi di seluruh 50 negara bagian. (Foto: Reuters)

JATIMTIMES - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali bikin geger pasar global. Pernyataannya soal tarif impor tinggi yang ia sebut sebagai "obat" untuk memperbaiki sistem perdagangan justru bikin pasar keuangan gonjang-ganjing. 

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa negara-negara asing harus "membayar banyak uang" jika ingin tarif tinggi itu dicabut. 

Baca Juga : Wisatawan Keluhkan Parkir Pantai Papuma, Pengelola: Hanya Momen Tertentu

“Saya tidak ingin semuanya jadi kacau. Tapi terkadang, kita memang harus minum obat untuk menyembuhkan sesuatu,” kata Trump, dikutip Reuters, Senin (7/4/2025). 

Trump juga menyinggung sejumlah pemimpin dunia yang telah menghubunginya selama akhir pekan. 

"Mereka datang ke meja perundingan. Mereka ingin berunding, tetapi tidak akan ada pembicaraan kecuali mereka membayar kami sejumlah besar uang setiap tahun," ujarnya. 

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengklaim lebih dari 50 negara sudah memulai pembicaraan dagang sejak pengumuman tarif pekan lalu. 

Menteri Perdagangan Howard Lutnick menambahkan, tarif-tarif ini bisa berlangsung “berhari-hari atau berminggu-minggu,” tergantung hasil negosiasi. 

Komentar ini langsung memicu kekhawatiran investor. Bursa saham Asia langsung merah total pada Senin (7/4), termasuk pasar China dan Hong Kong yang anjlok. Bahkan Taiwan mengalami penurunan saham harian terbesar dalam sejarah, hampir 10% dalam sehari. 

Efeknya merembet ke mana-mana. Harga minyak turun, saham-saham bank Jepang merosot tajam, bahkan emas yang biasanya jadi aset aman saat pasar bergejolak ikut dilepas demi menutup kerugian di sektor lain. Saking paniknya pasar, dana kedaulatan China dilaporkan ikut turun tangan untuk mencoba menstabilkan keadaan. 

Sementara itu, indeks Nikkei Jepang merosot ke titik terendah dalam satu setengah tahun terakhir, dipimpin oleh saham-saham perbankan besar yang kehilangan hingga seperempat dari nilai pasarnya dalam waktu tiga hari saja. 

Investor kini bertaruh akan adanya risiko resesi global. Banyak yang mulai memprediksi The Fed bakal memangkas suku bunga secepat-cepatnya bulan depan. Meski begitu, Ketua The Fed Jerome Powell masih kalem dan mengatakan tak akan terburu-buru ambil tindakan. 

Mulai Sabtu lalu, petugas bea cukai AS sudah mulai menerapkan tarif sepihak sebesar 10% untuk berbagai barang impor. Dan mulai Rabu dini hari waktu AS (atau pukul 04.01 WIB), tarif "timbal balik" yang lebih tinggi, antara 11% hingga 50% akan diberlakukan tergantung pada negara asal barang. 

Kebijakan ini menuai kritik keras. Dari dalam negeri, manajer dana miliarder Bill Ackman, yang sebelumnya mendukung pencalonan Trump, menyerukan agar tarif itu dihentikan demi menghindari “musim dingin ekonomi yang dahsyat.” 

“Presiden mulai kehilangan kepercayaan dari para pemimpin bisnis dunia,” ujarnya. 

Meski membuat pasar ketar-ketir, penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett juga membantah bahwa tarif ini digunakan untuk menekan The Fed agar menurunkan suku bunga. "Tidak akan ada paksaan politik,” katanya. 

Baca Juga : Tagihan Listrik Tiba-tiba Membengkak, PLN Buka Suara

Tarif sepihak buatan Trump mulai dikenakan sejak Sabtu lalu sebesar 10% atas semua impor dari sejumlah negara. Mulai Rabu pukul 12:01 dini hari EDT (4:01 pagi GMT), tarif "timbal balik" yang lebih tinggi antara 11% hingga 50% akan diberlakukan terhadap masing-masing negara. 

Beberapa negara langsung mengambil langkah taktis. Presiden Taiwan Lai Ching-te pada Minggu (6/4) menyampaikan, “Kami menawarkan tarif nol sebagai dasar pembicaraan dengan AS.” 

Ia juga menjanjikan akan menghapus hambatan perdagangan dan meningkatkan investasi Taiwan di AS. 

Vietnam pun ikut bereaksi. Dalam panggilan telepon dengan Trump pada Jumat (4/4), Presiden To Lam sepakat membahas penghapusan tarif.
Trump menyebut diskusi itu "sangat produktif." 

Sementara itu, dari India, seorang pejabat pemerintah mengatakan kepada Reuters bahwa negara mereka tidak berencana membalas tarif sebesar 26% dan saat ini sedang berdialog dengan AS untuk mencapai kesepakatan. 

Sedangkan di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump pada hari ini Senin (7/4) untuk meminta penangguhan bea masuk. 

Bank Sentral Selandia Baru akan menjadi yang pertama merespons, dijadwalkan memangkas suku bunga pada Selasa (8/4). Para ekonom memprediksi ini akan menjadi awal dari beberapa pemangkasan tahun ini. 

Di Indonesia, Bank Indonesia siap turun tangan menstabilkan rupiah yang sedang terpuruk. “Kami akan melakukan intervensi agresif di pasar valuta asing domestik ketika pasar dibuka kembali pada hari Selasa,” ujar BI dalam pernyataan resmi, Senin (7/4/2025). 

Para ekonom mulai menghitung dampak kebijakan ini. JPMorgan kini memperkirakan tarif impor akan memangkas pertumbuhan ekonomi AS 0,3% tahun ini, lebih kecil dari proyeksi sebelumnya sebesar 1,3%. 

Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan tarif akan mengurangi pertumbuhan PDB China setidaknya 0,7 poin persentase, dengan proyeksi pertumbuhan tahun 2025 sebesar 4,5%. 

Ketidakpastian ini telah membayangi prospek ekonomi global. Para pengambil kebijakan kini dipaksa menavigasi kondisi pasar yang tidak menentu akibat langkah "obat pahit" dari Presiden AS Donald Trump.


Topik

Internasional Pajak Impor Amerika Serikat donald trump



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sampang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni