Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pemerintahan

Lewat Adhra Dharma, Bakesbangpol Jember Bekali Mahasiswa dengan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara

Penulis : Moh. Ali Mahrus - Editor : A Yahya

27 - Aug - 2026, 14:29

Placeholder
Mahasiswa baru Poltekes Jember saat mendapatkan materi wawasan kebangsaan

JATIMTIMES - Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Jember terus mendorong penguatan wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Adhira Dharma 2026 di Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Jember, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.30 hingga 11.00 WIB di Ruang Kuliah 6 Poltekkes Jember tersebut menghadirkan M. Syamsu Rijal, S.H., M.H., Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Jember, sebagai narasumber.

Baca Juga : Kuras Tangki Tanpa Drama, Penguin Total Drain di Graha Bangunan Blitar Tersedia hingga 2.000 Liter

Mengusung tema “Membangun Mahasiswa Berbangsa, Bernegara dan Bela Negara”, materi diarahkan pada upaya membangun karakter mahasiswa agar memiliki rasa cinta tanah air, memahami nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus mampu mengenali berbagai ancaman terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam pemaparannya, Syamsu Rijal menjelaskan bahwa berbagai dinamika dan konflik pembangunan, baik di tingkat pusat maupun daerah, menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat. Karena itu, penguatan wawasan kebangsaan, ideologi Pancasila, serta pemahaman terhadap sejarah perjalanan bangsa menjadi hal yang penting, khususnya bagi generasi muda.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Mereka juga perlu memiliki pemahaman mengenai jati diri, lingkungan sosial, serta nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

“Generasi muda harus mengenal dirinya, mengenal alam dan lingkungannya, serta mengenal Tuhan. Dari pemahaman tersebut akan tumbuh kesadaran mengenai potensi, kekurangan, tantangan dan tanggung jawab yang dimiliki,” jelas Syamsu.

Ia juga mengajak mahasiswa memandang keberagaman Indonesia sebagai kekuatan. Keberagaman suku, agama, budaya dan tradisi diibaratkan seperti taman yang indah karena memiliki berbagai macam bunga. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk terpecah, melainkan modal sosial untuk membangun Indonesia yang kuat.

Syamsu menekankan bahwa prinsip Bhinneka Tunggal Ika harus terus dijaga. Sejarah Nusantara menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sejak dahulu telah hidup dalam keberagaman. Salah satu contoh yang disampaikan adalah konsep Siwa-Buddha pada masa Majapahit, yang menggambarkan kehidupan berdampingan antara tradisi keagamaan yang berbeda dengan tetap saling menghormati.

“Karena Indonesia terdiri atas masyarakat yang sangat beragam, kerukunan antarumat beragama menjadi kunci penting dalam menjaga persatuan dan mencegah konflik,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, mahasiswa juga dikenalkan dengan pentingnya peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dalam menjaga kerukunan sekaligus membantu mengantisipasi potensi konflik keagamaan di tengah masyarakat.

Selain persoalan keberagaman, materi Adhira Dharma 2026 juga mengajak mahasiswa memahami perjalanan sejarah bangsa. Sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, Nusantara terdiri atas berbagai kerajaan dan kesultanan, antara lain Samudra Pasai, Majapahit, Mataram Islam, Ternate dan Tidore.

Salah satu sejarah penting yang disampaikan adalah peran Kesultanan Yogyakarta setelah Proklamasi Kemerdekaan. Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyatakan Yogyakarta bergabung dengan Republik Indonesia dan memberikan dukungan besar kepada negara yang baru berdiri, termasuk dukungan keuangan. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Syamsu juga mengingatkan mahasiswa bahwa kolonialisme tidak hanya berkaitan dengan kekuatan militer. Pada awalnya, penguasaan ekonomi Nusantara dilakukan melalui VOC yang kemudian berkembang menjadi kekuatan besar. Eksploitasi sumber daya untuk kepentingan ekonomi dan berbagai persoalan internal, termasuk korupsi, turut menjadi pelajaran sejarah yang relevan hingga saat ini.

Menurut Syamsu, perkembangan globalisasi dan teknologi telah membuat dunia semakin interconnected. Batas antarnegara semakin tidak terasa sehingga berbagai informasi, ideologi, budaya dan nilai dapat masuk dengan cepat. Kondisi tersebut memberikan peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia.

Baca Juga : Yayoi Kusama, Sang Ratu Polkadot Meninggal Dunia di Usia 97 Tahun

Sejumlah tantangan kebangsaan yang perlu diwaspadai antara lain radikalisme, terorisme, intoleransi, narkoba dan korupsi. Mahasiswa sebagai kelompok intelektual muda diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi mampu berpikir kritis dan menyaring berbagai pengaruh yang masuk.

Radikalisme, kata Syamsu, perlu dipahami secara proporsional. Pemahaman yang mendalam terhadap suatu ajaran tidak menjadi persoalan selama tidak berkembang menjadi sikap intoleran dan kebencian terhadap kelompok lain. Karena itu, penguatan toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan menjadi bagian penting dalam pencegahan radikalisme dan terorisme.

Selain itu, mahasiswa juga diminta membangun budaya antikorupsi sejak lingkungan pendidikan. Korupsi tidak selalu identik dengan pengambilan uang dalam jumlah besar. Perilaku koruptif dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari penyalahgunaan kewenangan, manipulasi spesifikasi barang, hingga kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

“Integritas harus dibangun sejak sekarang. Jangan membiasakan diri dengan tindakan yang tidak jujur. Bahkan korupsi waktu, seperti tidak disiplin dan menggunakan waktu tidak sebagaimana mestinya, juga harus menjadi perhatian,” tegasnya.

Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, generasi muda tidak boleh bersikap pesimistis. Mahasiswa justru harus mempersiapkan diri dengan pendidikan, iman, nilai agama, wawasan kebangsaan, kedisiplinan, kejujuran dan integritas.

Melalui Adhira Dharma 2026, mahasiswa Poltekkes Jember diharapkan mampu menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara akademik dan profesional, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat serta kesadaran untuk ikut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penguatan karakter tersebut dinilai penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Generasi muda saat ini akan menjadi bagian penting dari kepemimpinan dan pembangunan Indonesia di masa mendatang.

Dengan memahami sejarah, menghargai keberagaman, mengamalkan Pancasila, menjaga toleransi, serta menjauhi radikalisme, terorisme, narkoba dan korupsi, mahasiswa diharapkan mampu mengambil peran positif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Bakesbangpol Jember menilai pendidikan wawasan kebangsaan di lingkungan kampus merupakan langkah strategis untuk membangun generasi muda yang memiliki rasa cinta tanah air, berjiwa bela negara, berintegritas dan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

“Mahasiswa adalah generasi penerus. Karena itu, bekali diri dengan ilmu, wawasan kebangsaan, nilai agama dan integritas. Jadilah generasi yang mampu membawa Indonesia menuju 2045 dengan tetap menjaga persatuan dan keberagaman,” pungkas Syamsu. (*)


Topik

Pemerintahan Bakesbangpol-jember Syamsul Rizal. Adhira dharma



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sampang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Moh. Ali Mahrus

Editor

A Yahya

Pemerintahan

Artikel terkait di Pemerintahan