Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Malam 1 Suro dan Mitos Kesialan, Benarkah Bertentangan dengan Ajaran Islam?

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

13 - Jun - 2026, 09:38

Placeholder
Ilustrasi seorang umat yang berdoa pada 1 Muharram, mitos yang beredar dianggap sebagai malam keramat penuh kesialan (ist)

JATIMTIMES - Datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharam kembali diiringi beragam tradisi dan kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat, khususnya di kalangan masyarakat Jawa. Salah satu yang masih sering menjadi perbincangan adalah keyakinan tentang malam 1 Suro yang dianggap sebagai malam keramat, penuh pantangan, bahkan diyakini membawa kesialan jika digunakan untuk menggelar hajatan atau memulai aktivitas tertentu.

Padahal, dalam ajaran Islam, Muharram justru dikenal sebagai bulan yang dimuliakan Allah dan menjadi momentum memperbanyak ibadah, bukan mempercayai hal-hal yang tidak memiliki dasar syariat.

Baca Juga : Minum Susu Putih hingga Menulis Basmalah di Malam 1 Muharam, Ini Makna dan Penjelasannya 

Muharam termasuk salah satu dari empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 36 yang artinya, "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu."

Ayat tersebut menegaskan bahwa Muharam merupakan bulan yang memiliki kedudukan istimewa. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan maupun keyakinan yang menyimpang dari tauhid.

Keutamaan Muharam juga ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW. Beliau bersabda, "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram" (HR Muslim).

Selain itu, terdapat puasa Tasu'a pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram yang memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW bersabda, "Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu" (HR Muslim).

Dalam sejarah Islam, bulan Muharam juga dikaitkan dengan sejumlah peristiwa penting yang menunjukkan pertolongan Allah kepada para nabi-Nya. Di antaranya adalah keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Kisah tersebut diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Yunus ayat 90 yang menceritakan bagaimana Firaun akhirnya mengakui kekuasaan Allah ketika tenggelam di Laut Merah.

Meski demikian, kemuliaan Muharam sering kali bercampur dengan berbagai kepercayaan turun-temurun yang berkembang di masyarakat. Malam 1 Suro misalnya, kerap dianggap sebagai waktu yang harus dihindari untuk menikah, membangun rumah, pindah tempat tinggal, atau mengadakan kegiatan besar karena dipercaya dapat mendatangkan nasib buruk.

Dalam perspektif Islam, keyakinan semacam itu termasuk tathayyur atau anggapan sial yang tidak dibenarkan. Rasulullah SAW secara tegas menolak praktik tersebut.

"Tidak ada tathayyur (anggapan sial), dan aku menyukai fa'l (prasangka baik)," sabda Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

Menurut Ghoffar Ismail dari Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Materi Pengajian Tarjih PP Muhammadiyah edisi 223, berbagai mitos yang berkembang terkait malam 1 Suro tidak memiliki landasan ilmiah maupun dalil agama.

Baca Juga : Kontingen Reog Surabaya Siap Bertarung di FNRP XXXI, Bonus Rp100 Juta Menanti Juara

"Mitos-mitos tersebut merupakan khurafat yang tidak mempunyai dasar dalam ajaran Islam dan dapat mengganggu kemurnian akidah apabila diyakini sebagai sesuatu yang menentukan nasib seseorang," jelas Ghoffar Ismail.

Islam menegaskan bahwa manfaat maupun mudarat hanya datang atas izin Allah SWT. Karena itu, menggantungkan nasib kepada hari, bulan, atau simbol tertentu bertentangan dengan prinsip tauhid yang menjadi fondasi utama ajaran Islam.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Anbiya ayat 66 yang artinya, "Mengapa kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak pula mendatangkan mudarat kepada kamu?"

Para ulama mengingatkan bahwa pelurusan pemahaman mengenai tradisi yang bercampur dengan takhayul perlu dilakukan secara bijaksana. Dakwah tidak dilakukan dengan mencela budaya masyarakat, melainkan memberikan pemahaman berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Hal tersebut sejalan dengan perintah Allah dalam Surat An-Nahl ayat 125, "Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik."

Karena itu, menyambut Muharram seharusnya menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperkuat keimanan, memperbanyak puasa sunnah, sedekah, zikir, serta berbagai amal kebajikan lainnya. Kemuliaan bulan ini tidak terletak pada mitos atau pantangan tertentu, melainkan pada kesempatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Dengan memahami hakikat Muharram secara benar, masyarakat diharapkan dapat memisahkan antara tradisi budaya dan keyakinan agama, sehingga tidak lagi terjebak pada anggapan-anggapan yang bertentangan dengan ajaran Islam.


Topik

Agama Muharam satu Suro Tahun Baru Islam



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sampang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy

Agama

Artikel terkait di Agama