Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Gaya Hidup

Tren Slugging Diklaim Bikin Glowing, Aman atau Berisiko? Ini Kata Dermatolog

Penulis : Irsya Richa - Editor : Yunan Helmy

12 - Apr - 2026, 16:59

Placeholder
Seorang warganet saat menggunakan petroleum jelly di Tik Tok. (Foto: tangkapan layar)

JATIMTIMES - Tren slugging kembali ramai diperbincangkan di media  sosial  setelah banyak pengguna membagikan hasil kulit glowing dengan metode ini. Teknik perawatan wajah menggunakan petroleum jelly ini menarik perhatian karena diklaim mampu mengunci kelembapan saat digunakan pada malam hari.

Dalam ribuan konten, pengguna membagikan pengalaman mereka setelah rutin melakukan slugging. Hasil yang ditampilkan pun beragam, mulai dari kulit yang tampak lebih sehat hingga berkurangnya garis halus. Karena itu, metode ini dengan cepat menjadi perbincangan luas, terutama di kalangan pecinta skincare.

Baca Juga : Bupati Sanusi Ajak Umat Islam Pererat Ukhuwah Islamiyah di Pengajian Akbar KH. Anwar Zahid 

Slugging berasal dari tren K-beauty, yakni teknik mengunci kelembapan dengan mengoleskan petroleum jelly sebagai lapisan terakhir setelah penggunaan serum dan pelembap. Produk seperti Vaseline hingga CeraVe kerap digunakan untuk metode ini karena sifatnya yang occlusive, yakni membentuk lapisan pelindung di permukaan kulit agar hidrasi tidak mudah menguap.

Popularitas slugging melejit seiring banyaknya konten pengguna yang membagikan hasil kulit lebih halus dan bercahaya setelah rutin melakukannya. Namun, di balik tren tersebut, para ahli mengingatkan bahwa metode ini tidak selalu cocok untuk semua orang.

Dermatolog Debra Jaliman menegaskan bahwa penggunaan slugging perlu disesuaikan dengan jenis kulit. “Slugging sebelum tidur boleh dilakukan jika kulit sangat kering, tetapi tidak disarankan untuk kulit yang rentan berjerawat,” katanya.

Ia juga memperingatkan potensi efek samping jika teknik ini digunakan tanpa pertimbangan yang tepat. “Petroleum jelly bisa menjebak minyak dan menyumbat pori-pori, yang justru memicu breakout,” tambahnya.

Selain risiko munculnya jerawat, penggunaan petroleum jelly sebagai occlusive juga perlu diperhatikan jika dikombinasikan dengan produk aktif atau obat topikal. Lapisan yang terlalu menutup dapat meningkatkan penyerapan bahan aktif secara berlebihan, sehingga berpotensi menimbulkan iritasi, terutama pada kulit sensitif.

Meski demikian, bukan berarti slugging harus dihindari. Bagi pemilik kulit kering atau mereka yang berada di lingkungan dengan tingkat kelembapan rendah, metode ini justru bisa menjadi solusi efektif untuk menjaga kesehatan skin barrier.

Baca Juga : Anak SD Belum Lancar Menulis? Kenali 3 Tahap Belajar Menulis yang Benar dari Kemendikdasmen

Dengan teknik yang tepat, slugging mampu membantu kulit mempertahankan kelembapan alami dan memperbaiki tekstur kulit secara bertahap. Agar hasilnya optimal dan tetap aman, slugging sebaiknya dilakukan pada malam hari setelah wajah dibersihkan.

Penggunaan serum dengan kandungan humektan seperti hyaluronic acid dapat menjadi langkah awal, diikuti pelembap, lalu ditutup dengan petroleum jelly dalam jumlah secukupnya. Penggunaan berlebihan justru dapat menimbulkan efek sebaliknya.

Yang tak kalah penting, setiap orang perlu memperhatikan reaksi kulit masing-masing. Jika setelah beberapa kali penggunaan muncul komedo, jerawat, atau kulit terasa tidak nyaman, maka metode ini sebaiknya dihentikan. Sebab, tren yang viral belum tentu cocok untuk semua orang.


Topik

Gaya Hidup Tren Slugging slugging glowing gaya hidup



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sampang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Yunan Helmy