Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Mengaku Tuhan demi Menjaga Tauhid, Kisah Sunyi Abu Yazid al-Bustami

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Nurlayla Ratri

05 - Feb - 2026, 09:18

Placeholder
Ilustrasi seorang sufi yang sempat mengaku tuhan agar ditinggalkan pengikutnya (ist)

JATIMTIMES - Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Surusyan al-Bustami pernah mengucapkan kalimat yang membuat orang-orang menjauh darinya. Ia mengaku sebagai Tuhan dan meminta manusia menyembahnya. Ucapan itu terdengar gila, bahkan menyesatkan. Namun bagi Abu Yazid, pernyataan ekstrem tersebut justru menjadi cara paling keras untuk memutus ketergantungan manusia pada dirinya, agar perjalanan ruhani mereka tidak berhenti pada sosok seorang sufi.

Kisah itu dicatat Fariduddin Attar, sufi dan penyair abad ke-12, dalam kitab Tadzkiratul Auliya. Abu Yazid dikenal sebagai tokoh yang sangat menjaga kemurnian tauhid. Ia menolak dikultuskan. Dalam pandangannya, manusia yang berhenti pada figur akan kehilangan arah dalam mencari Tuhan.

Baca Juga : Spesifikasi Dan Harga Apple Watch Series 11

Attar menuliskan bahwa perjalanan Abu Yazid menuju Ka'bah memakan waktu hingga 12 tahun. Lamanya perjalanan itu bukan karena jarak, melainkan karena setiap kali berjumpa dengan pengkhotbah di sepanjang jalan, Abu Yazid berhenti sejenak. Ia membentangkan sajadah dan menunaikan shalat sunnah dua rakaat. Sikap itu selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya,” yang menegaskan bahwa nilai sebuah perjalanan tidak ditentukan oleh cepat atau lambatnya langkah, melainkan oleh kejernihan tujuan.

Bagi Abu Yazid, Ka'bah bukan simbol kemegahan yang tertutup bagi manusia. Ia pernah berkata bahwa rumah suci itu bukan seperti serambi istana raja, melainkan tempat yang dapat didatangi siapa saja, kapan saja. Pandangan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa Allah tidak terikat ruang dan arah, sebagaimana firman-Nya, “Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah".

Pada tahun itu, setelah tiba di Ka'bah, Abu Yazid tidak melanjutkan perjalanan ke Madinah. Ia menilai tidak pantas menjadikan ziarah ke kota Nabi sebagai pelengkap ritual belaka. Menurutnya, mengunjungi Madinah membutuhkan kesiapan ruhani yang berbeda. Ia ingin datang sebagai hamba yang telah membersihkan niat, sejalan dengan pesan Nabi SAW, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal perbuatan kalian.”

Setahun kemudian, Abu Yazid kembali menunaikan ibadah haji. Sejak menempuh padang pasir, ia mengenakan pakaian yang berbeda di setiap tahapan perjalanan. Pergantian itu menjadi simbol perubahan jiwa yang terus berlangsung. Namun justru dalam perjalanan itulah, sekelompok besar orang terpikat dan menjadikannya guru spiritual.

Ketika Abu Yazid meninggalkan Tanah Suci, banyak dari mereka mengiringinya. Ia menoleh dan bertanya siapa orang-orang itu. Jawabannya sederhana, mereka ingin berjalan bersamanya. Mendengar hal tersebut, Abu Yazid diliputi kegelisahan. Ia khawatir manusia berhenti pada dirinya, padahal dalam ajaran tauhid ditegaskan, “Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa.”

Baca Juga : Ponorogo Pasca Batoro Katong: Erosi Kekuasaan pada Masa Panembahan Agung

Abu Yazid kemudian bermunajat agar tidak memiliki pengikut. Untuk memutus ketertarikan mereka, ia memilih jalan yang ekstrem. Setelah shalat Subuh, ia berseru di hadapan orang-orang dengan pengakuan seolah-olah dirinya adalah Tuhan dan meminta disembah. Ucapan itu bukan lahir dari keyakinan, melainkan sandiwara sadar agar mereka berpaling dan melanjutkan perjalanan spiritualnya sendiri.

Reaksi pun datang cepat. Orang-orang yang semula ingin mengiringinya justru menyebut Abu Yazid telah kehilangan akal. Mereka pergi satu per satu, meninggalkannya dalam kesunyian. Bagi Abu Yazid, kesendirian itu bukan kegagalan. Ia memilih lenyap dari pusat perhatian manusia, agar yang dicari bukan dirinya, melainkan Tuhan Yang Maha Esa.


Topik

Agama abu yazid mengaku tuhan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sampang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Nurlayla Ratri

Agama

Artikel terkait di Agama