JATIMTIMES -Turnamen sepak bola putri Kelompok Umur (KU) 8, KU 10, dan KU 12 MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 2 2025–2026 resmi bergulir setelah kesuksesan Seri 1 yang digelar di 10 kota di Indonesia, termasuk Malang Raya. Pada Seri 2 ini, MLSC memperluas jangkauan ke 12 kota dengan menambahkan Samarinda dan Banjarmasin sebagai lokasi baru.
Malang Raya kembali menjadi sorotan dalam peta pembinaan sepak bola putri nasional. Sejak Seri 1, wilayah ini telah menjelma sebagai magnet MilkLife Soccer Challenge (MLSC), dan kini kembali dipercaya menjadi kota penutup pada Seri 2 musim 2025–2026.
Baca Juga : Kucuran Dana Rp 145 Miliar dari Bank Dunia, Kota Malang Akan Bangun Mini Bozem Bondowoso
Peran Malang Raya sejak Seri 1 menjadi daya tarik tersendiri. Pada gelaran MLSC Malang Seri 1 yang berlangsung di Stadion Gajayana, Kota Malang, November 2025 lalu, lahir sejarah baru ketika SDN Mojorejo 01 Kota Batu menjuarai KU 12 usai menaklukkan SDN 3 Pandanlandung Malang dengan skor tipis 1-0. Sementara di KU 10, MI Al Ihsan tampil dominan dengan kemenangan telak 4-0 atas SDN Sawojajar 5.
Memasuki Seri 2, Semarang dan Tangerang ditetapkan sebagai kota pembuka turnamen. Sementara Malang Raya kembali mendapat kehormatan sebagai kota penutup MLSC Seri 2 2025–2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 19–24 Mei 2026 mendatang.
Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono, menegaskan bahwa penunjukan Malang sebagai penutup bukan tanpa alasan, mengingat kuatnya ekosistem dan antusiasme peserta di wilayah tersebut.
“Turnamen ini kami rancang sebagai program jangka panjang. Setelah Seri 1 berjalan dengan baik di 10 kota, kami melanjutkan ke Seri 2 agar para peserta memiliki kepastian kompetisi yang berkelanjutan. Konsistensi ini penting supaya atlet, orang tua, dan sekolah melihat sepak bola putri sebagai jalur pembinaan yang serius dan berkesinambungan,” ungkap Teddy, Rabu (21/1/2026).
Teddy membeberkan, jumlah peserta terus menunjukkan tren peningkatan signifikan. Pada Seri 1 2024 tercatat 5.163 peserta, melonjak menjadi 10.051 siswi di Seri 2 2024, dan kembali meningkat tajam menjadi 17.492 calon pesepak bola putri pada Seri 1 musim 2025–2026.
Teddy menambahkan, masuknya Samarinda dan Banjarmasin merupakan langkah strategis untuk memperluas basis pembinaan di luar Pulau Jawa, seiring tingginya minat dan potensi sepak bola putri di Kalimantan. Apalagi, MLSC kini diperkuat kehadiran mantan pelatih Timnas Indonesia Jacksen F Tiagosebagai Head Coach bersama Timo Scheunemann.
“Kami melihat dampak positif MLSC tidak hanya pada kualitas pemain, tetapi juga pada tumbuhnya ekosistem. Semakin banyak sekolah dan SSB putri yang terbentuk setelah MLSC hadir di suatu daerah. Ini efek domino yang sangat kami harapkan,” tegas Teddy.
Baca Juga : Viral Aksi Perampasan Ponsel di Malang, Pelaku Ancam Korban dengan Sajam
Dampak tersebut juga dirasakan langsung oleh pelaku pembinaan. Founder sekaligus Head Coach SSB None Mude, Leonardo Sedubun, menyebut MLSC menjadi pemicu pesatnya pertumbuhan jumlah atlet putri.
“Setelah MilkLife Soccer Challenge All-Stars, banyak yang datang untuk daftar latihan. Sekarang sudah ada sekitar 100 atlet di SSB None Mude, padahal awalnya hanya 20 atlet,” ungkap Leo.
Selain mempertandingkan format 7 vs 7 untuk KU 10 dan KU 12, MLSC 2025–2026 juga kembali menghadirkan Festival SenengSoccer untuk KU 8 serta Skill Challenge sebagai sarana pengenalan teknik dasar sejak usia dini.
Rangkaian ini akan ditutup dengan MilkLife Soccer Challenge All-Stars yang mempertemukan talenta terbaik dari seluruh kota, dengan format baru 9 vs 9, dan dijadwalkan berlangsung Juni 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah.
Dengan kembali menempatkan Malang Raya sebagai penutup turnamen, MLSC menegaskan posisi wilayah ini bukan hanya sebagai peserta awal, tetapi juga sebagai panggung klimaks pembinaan sepak bola putri nasional.
