JATIMTIMES - Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri biasanya dijadikan sebagai momen untuk bersilaturahmi dan saling meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan kepada orang lain.
Apalagi kita sebagai makhluk sosial, tentunya kita tidak terlepas dari sebuah kesalahan. Oleh karena itu, momen Lebaran sering dimanfaatkan untuk menjadi momen saling memaafkan dan mengakui kesalahan satu sama lain.
Baca Juga : Dispendukcapil Kabupaten Malang Punya Tanggungan Cetak 46 Ribu KTP
Namun, dalam pelaksanaan kegiatan maaf-maafan ini, beberapa orang mungkin hanya sekadar ikut-ikutan tanpa tahu apakah maaf-maafan ini hanya sebuah tradisi atau kewajiban dari seorang Muslim.
Lantas apa sebenarnya hukum maaf-maafan saat Lebaran yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia? Berikut penjelasan Ustaz Abdul Somad (UAS).
Hukum Maaf-maafan saat Lebaran
Ustaz Abdul Somad (UAS) menegaskan bahwa meminta maaf kepada sesama manusia itu hendaknya dilakukan setiap saat tanpa harus menunggu Idul Fitri.
"Tentang masalah minta maaf tidak mesti menunggu Idul Fitri," kata Ustaz Abdul Somad, dikutip dari kanal YouTube Islam Kaffah.
Lebih lanjut, UAS mengatakan jika tradisi maaf-maafan adalah tradisi yang ada di Indonesia dalam menyambut hari raya Idul Fitri. "Jadi, mohon maaf lahir dan batin itu adalah tradisi kita," ujarnya.
Ia kemudian menuturkan, selama ini, dirinya tidak pernah menemukan tradisi maaf-maafan ini pada orang Mesir ataupun Maroko. "Saya tidak melihat orang Mesir, orang Maroko, enggak ada mereka minta maaf pada Idul Fitri," ungkapnya.
Di negara tersebut, Ustaz Abdul Somad mengatakan bahwa minta maaf dilakukan sesaat setelah seseorang berbuat salah. "Jadi, kita tetap minta maaf ya langsung setelah kekhilafan, kesalahan langsung minta maaf," ujarnya.
Baca Juga : Pemkab Malang Lakukan Mitigasi, Pastikan Keselamatan 558 Ribu Wisatawan Libur Lebaran
Sehingga tidak ada tradisi minta maaf saat hari raya Idul Fitri seperti di Indonesia.
Lantas apa itu berarti tradisi minta maaf selama Idul Fitri ini adalah sesuatu yang salah dan berdosa menurut Ustaz Abdul Somad? "Tapi tradisi itu baik bukan berarti salah, bid'ah, bukan," tegas Ustaz Abdul Somad.
Menurut Ustaz Abdul Somad, tradisi maaf-maafan ini tetap menjadi hal yang bernilai positif karena mengajak manusia untuk saling bermaaf-maafan sehingga tidak menjadi satu hal yang dilarang dalam Islam.
Lebih baiknya lagi untuk kalian, memaafkan tidak perlu menunggu Idul Fitri. Teruslah mengeluarkan kata maaf supaya tidak ada dendam dengan siapa pun.
Jangan sampai ada kata dendam karena Allah sangat membenci umatnya saling membenci, lakukan terus kebaikan dan teruslah kallian hidup dalam kerukunan sebagaimana sangat dianjurkan oleh Allah SWT.
Dari penjelasan UAS tersebut, bisa ditarik benang merah bahwa meminta maaf hendaknya tidak perlu menunggu Hari Raya Idul Fitri. Meminta maaf dapat dilakukan setelah melakukan kesalahan dan kekeliruan. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya rasa benci dan dendam sesama manusia. Semoga bermanfaat!
