JATIMTIMES - Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya menjadi momentum pemilihan ketua umum PBNU. Di tengah perhatian terhadap pemilihan ketua umum, ada sejumlah persoalan keagamaan, sosial, hukum hingga isu kebangsaan yang turut dibahas dalam forum muktamar.
Pembahasan tersebut salah satunya berlangsung melalui bahtsul masail. Forum ini menjadi ruang bagi ulama dan intelektual NU untuk membahas persoalan yang berkembang di tengah masyarakat dengan mempertimbangkan khazanah keislaman sekaligus kondisi zaman.
Baca Juga : Gus Vawrak Ajak Warga NU Tak Larut Polemik Ketum, Fokus ke Bahtsul Masail Lebih Urgen
Berdasarkan dokumen bahan persidangan muktamar yang diterbitkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), terdapat sejumlah tema yang akan dibahas dalam bahtsul masail dan komisi-komisi muktamar.

Daftar isi Bahtsul Masail dalam Muktamar NU Ke 35. (Foto: Instagram)
Berikut sejumlah tema yang akan dibahas dalam Bahtsul Masail Muktamar Ke-35 NU dilansir dari akun Instagram tokoh muda NU asal Ponpes Besuk, Pasuruan, Gus Vawrak Tsabat:
1. Persoalan Kekinian: DNA hingga Bitcoin
Komisi Bahtsul Masail Waqi'iyah akan membahas sejumlah persoalan yang berkaitan langsung dengan perkembangan teknologi dan kehidupan masyarakat.
Beberapa di antaranya adalah komersialisasi data genetika atau DNA, penggunaan Neuralink Chip pada otak manusia, hukum Bitcoin, serta standarisasi kadar emas pada nisab zakat mal.
Tema tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi umat terus berkembang seiring kemajuan teknologi dan perubahan pola kehidupan.
2. Kebijakan Fiskal hingga Nilai-Nilai Keulamaan
Komisi Bahtsul Masail Maudlu'iyah akan membahas persoalan yang bersifat tematik.
Materinya mencakup kebijakan fiskal negara dalam perspektif Islam, konsep i'adathun nazhor atas keputusan keagamaan NU, serta konsep nilai-nilai keulamaan.
Pembahasan ini berkaitan dengan bagaimana prinsip keislaman ditempatkan dalam persoalan kehidupan bernegara sekaligus bagaimana NU melihat kembali sejumlah keputusan keagamaan yang telah ada.
3. RUU Sisdiknas hingga Hukum Jinayah Aceh
Persoalan perundang-undangan masuk dalam pembahasan Komisi Bahtsul Masail Qanuniyah.
Ada tiga tema yang tercantum, yakni RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), RUU Ketenagakerjaan yang mencakup pembatasan alih daya, PKWT, pengupahan dan PHK, serta Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah.
Pembahasan ini menjadi ruang bagi NU untuk memberikan pandangan terhadap sejumlah regulasi yang bersinggungan dengan kepentingan masyarakat.
4. Perubahan AD/ART NU
Selain bahtsul masail, persoalan internal organisasi juga menjadi bagian penting muktamar.
Komisi Organisasi akan membahas rancangan perubahan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) NU.
5. SDA, Energi hingga Pendidikan
Komisi Rekomendasi membawa sejumlah persoalan yang berkaitan dengan arah kebijakan NU dalam merespons persoalan bangsa dan dunia.
Materinya antara lain tata kelola sumber daya alam, kedaulatan energi dan ketahanan pangan. Ada pula pembahasan mengenai lingkungan hidup dan teknologi terbarukan.
Baca Juga : 15.000 Makanan Gratis Dibagikan Baznas untuk Muktamirin di Muktamar NU
Isu perdamaian dunia juga masuk dalam agenda melalui tema penguatan peran agama dan masyarakat dalam perdamaian dunia.
Di bidang pendidikan, komisi ini akan membahas perbaikan tata kelola pendidikan serta peningkatan kesejahteraan guru dan dosen untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan.
Sementara dari sisi ekonomi, dibahas pula pemberdayaan ekonomi rakyat melalui koperasi berbasis komunitas yang inklusi dan berdaya saing.
6. Peta Jalan NU 2026-2050
Komisi Program akan membahas arah perjalanan organisasi dalam jangka panjang.
Materinya meliputi pendahuluan dan analisis kontekstual, landasan dasar program NU, Peta Jalan NU 2026-2050, serta arah strategi program NU 2026-2031.
Beragamnya tema tersebut memperlihatkan bahwa Bahtsul Masail tidak berhenti pada persoalan halal dan haram. Forum ini menjadi ruang untuk mencari jawaban keagamaan atas persoalan baru yang muncul di tengah masyarakat.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Gus Vawrak mengatakan dari tema bahtsul masail ini, NU terus membangun rumusan keagamaan yang mampu mengikuti perubahan zaman.
"Artinya, NU sedang mengerjakan sesuatu yang sangat serius: mencari bahasa keagamaan untuk menjawab persoalan dunia yang bahkan belum tentu dikenal oleh para ulama terdahulu. Dan di situlah menariknya bahtsul masail," ungkap Gus Vawrak, dikutip dari Instagram pribadinya, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, bahtsul masail mempertemukan khazanah keislaman klasik dengan persoalan modern. Karena itu, keputusan yang lahir dari forum tersebut tidak semestinya hanya berakhir sebagai dokumen setelah persidangan selesai.
"Hasilnya dapat menjadi bahan rekomendasi, masukan kebijakan, dan pijakan bagi NU dalam merespons persoalan publik," tandasnya.
Ia menilai keputusan keagamaan juga dapat memberikan pengaruh dalam jangka panjang.
"Hanya saja, sesuatu itu tidak selalu langsung kelihatan besok pagi. Sebab keputusan keagamaan kadang bekerja seperti benih. Ia tidak gaduh ketika ditanam. Tidak masuk FYP TikTok ketika tumbuh. Tetapi bertahun-tahun kemudian, orang baru sadar bahwa ada perubahan yang pernah dimulai dari sebuah meja musyawarah," jelasnya.
Karena itu, menurut Gus Vawrak, pembahasan keilmuan dalam muktamar tidak kalah penting untuk diperhatikan dibanding dinamika pemilihan pimpinan.
"NU juga harus 'seksi' dan menarik ketika para ulama dan warganya sedang memikirkan ke mana manusia harus dibawa oleh perubahan zaman," tandas Gus Vawrak.
