JATIMTIMES – Relokasi pedagang di kawasan Pasar Gadang, Kota Malang, memunculkan harapan baru sekaligus tuntutan dari masyarakat. Setelah para pedagang dipindahkan dari lokasi yang selama ini disebut menjadi bagian dari rencana penataan kawasan, warga kini menunggu langkah nyata pemerintah untuk segera merealisasikan pembangunan jalan yang telah lama diwacanakan.
Masyarakat menilai relokasi tidak boleh berhenti pada proses pemindahan pedagang semata. Pembangunan jalan yang menjadi tujuan utama penataan kawasan harus segera dilaksanakan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh warga.
Salah seorang warga Pakisaji, Suyono (56), berharap pemerintah tidak berlama-lama menindaklanjuti relokasi yang telah dilakukan. Apalagi persoalan Pasar Gadang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
"Kalau pedagang sudah direlokasi, ya harapan kami jalan segera dibangun. Jangan sampai setelah kosong malah dibiarkan bertahun-tahun tanpa kejelasan. Warga sudah terlalu lama menunggu," ujarnya Sabtu (13/6/2026).
Menurutnya, kondisi akses di sekitar Pasar Gadang selama ini kerap menimbulkan kepadatan lalu lintas, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja. Karena itu, pembangunan jalan dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menunjang mobilitas masyarakat.
Harapan serupa disampaikan Yanti (43), seorang penjual sayur keliling yang setiap hari melintasi kawasan tersebut untuk berjualan.
"Kalau jalannya nanti lebih lebar dan tertata, tentu kami yang jualan keliling juga terbantu. Selama ini sering macet dan susah lewat kalau pagi. Semoga relokasi ini benar-benar dilanjutkan dengan pembangunan jalan," katanya.
Ia mengaku tidak mempermasalahkan penataan yang dilakukan pemerintah selama tujuannya jelas dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Namun, ia berharap proyek yang direncanakan tidak hanya menjadi wacana.
Sementara itu, seorang pengguna jalan asal Kepanjsn yang hampir setiap hari melintas di kawasan Pasar Gadang, Wahyu Firmansyah (38), menilai masyarakat berhak menagih realisasi pembangunan setelah relokasi dilakukan.
"Kalau alasan relokasi untuk pembangunan jalan, ya sekarang saatnya dibuktikan. Jangan sampai masyarakat sudah mendukung penataan, tapi pembangunan yang dijanjikan tidak kunjung berjalan," tegasnya.
Menurut Wahyu, kemacetan di kawasan Pasar Gadang sudah menjadi persoalan lama yang membutuhkan solusi konkret. Ia berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait jadwal pelaksanaan pembangunan agar masyarakat tidak terus menunggu tanpa kejelasan.
Baca Juga : Truk Muatan Tebu Terguling Diduga Akibat Rem Blong, Picu Kemacetan di Lawang
Pantauan di lokasi, saat ini sudah tak ada lagi lapak permanen yang berdiri di sisi selatan Jalan Pasar Gadang. Seluruh bangunan telah nampak roboh. Pandangan sudah nampak lebih lapang meskipun area bekas bangunan belum dapat digunakan.
Hal itu lantaran masih banyak puing-puing sisa bangunan yang tak kunjung dibersihkan. Selain itu, beberapa petak juga masih terdapat bekas pondasi bangunan yang baru saja dibongkar.
Saat ini, tahapan administratif telah melewati masa Pre-Construction Meeting (PCM) atau rapat persiapan pelaksanaan pekerjaan.
Meski demikian, realisasi proyek infrastruktur senilai Rp14,9 miliar yang akan segera dimulai ini dipastikan menghadapi tantangan tersendiri, mengingat pelaksanaannya bertepatan dengan musim penghujan.
Desakan warga tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi publik terhadap penataan Pasar Gadang tidak hanya sebatas pemindahan pedagang. Masyarakat kini menanti bukti nyata berupa pembangunan infrastruktur yang mampu memperbaiki aksesibilitas, mengurangi kemacetan, serta mendukung aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Dengan lahan yang mulai dikosongkan pascarelokasi, warga berharap pemerintah bergerak cepat. Bagi mereka, keberhasilan penataan Pasar Gadang akan diukur dari terealisasinya pembangunan jalan yang selama ini dijanjikan, bukan sekadar dari suksesnya proses relokasi pedagang.
