Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

IHSG Indonesia Jadi yang Terburuk dari 90 Negara, Ini Penjelasannya 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

06 - Jun - 2026, 12:36

Placeholder
Ilustrasi saham. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Konten kreator keuangan sekaligus edukator finansial, Felicia Putri Tjiasaka, menyoroti kondisi pasar modal Indonesia yang menurutnya sedang menghadapi tekanan berat sepanjang 2026. Melalui unggahan di media sosial, Felicia menyebut kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi salah satu yang terburuk di dunia tahun ini.

Menurut Felicia, penurunan IHSG tidak terjadi dalam situasi pasar global yang sama-sama lesu. Justru sebaliknya, banyak bursa saham negara lain masih mencatatkan kenaikan.

Baca Juga : Resmi Kantongi Izin Kemenag, STIT Al Hadi Jadi Kampus Islam Baru di Bojonegoro

"IHSG turun hampir 35% di 2026 ini, dan jadi yang terburuk dari 90 negara di dunia," ujar Felicia.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa ada persoalan yang lebih spesifik terjadi di Indonesia.

"Menariknya lagi, ini terjadi saat mayoritas pasar saham (negara lain) itu naik. Artinya apa? Ada yang salah dan spesifik cuma di Indonesia," lanjutnya.

Dalam analisanya, Felicia menyebut terdapat dua faktor utama yang menurutnya memengaruhi sentimen investor terhadap Indonesia.

Faktor pertama berasal dari tekanan eksternal berupa kenaikan harga minyak dunia. Namun menurutnya, respons pemerintah terhadap kondisi tersebut justru memunculkan kekhawatiran baru.

"Pertama, eksternal shock dari harga minyak, dan diresponse dengan ngegedein subsidi BBM yang sangat tidak produktif," katanya.

Selain faktor global, Felicia juga menyinggung sejumlah kebijakan domestik yang dianggap turut memengaruhi kepercayaan pasar.

"Kedua, implementasi program domestik kayak MBG yang sangat reckless dan careless," ujarnya.

Ia menilai kombinasi kedua faktor tersebut membuat pelaku pasar semakin cermat menilai kondisi fiskal Indonesia.

Menurut Felicia, meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi keuangan negara membuat sebagian investor memilih menarik dananya dari Indonesia.

"Dua hal ini cukup bikin investor khawatir dengan kondisi fiskal dan keuangan kita. Alhasil mereka milih kabur dan rupiah anjur," ungkapnya.

Ia juga mengkritik langkah pemerintah dalam merespons pelemahan rupiah. Menurutnya, kebijakan yang diambil belum menyentuh akar masalah.

"Cara pemerintah merespons rupiah (nilai tukar lemah) juga mengecewakan. Ibarat ember bocor ya, bukannya mencari dan menutup keran air, tapi cuma menambal bolong yang sifatnya sementara," katanya.

Felicia juga memperingatkan bahwa tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia berpotensi belum berakhir.

Menurutnya, sejumlah indikator penting akan menjadi perhatian investor pada Juni 2026.
"Dan the worst are yet to come," ujarnya.

Ia kemudian menyinggung data cadangan devisa Indonesia yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Baca Juga : Dua Warna Baru Keramik Hyattstone Hadir di Graha Bangunan, Cocok untuk Teras hingga Taman

"Di Juni ini, kita akan lihat data foreign reserve yang mungkin terjun bebas," katanya.

Selain itu, pasar juga disebut tengah menanti keputusan dari MSCI terkait status Indonesia dalam klasifikasi pasar modal global.

"Keputusan MSCI yang mungkin pindahin kita ke frontier market," lanjutnya.

Tak hanya itu, Felicia menilai pasar juga akan memperhatikan langkah lembaga pemeringkat internasional terhadap Indonesia.

"Dan S&P rating yang mungkin downgrade outlook kita jadi negatif," ujarnya.

Bagi Felicia, pelemahan yang terjadi pada saham dan nilai tukar rupiah tidak bisa dipandang sebagai pergerakan pasar biasa.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan sinyal yang menunjukkan menurunnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

"Ketika saham dan mata uang kita dijual, seharusnya ini jadi sinyal. Bahwa dunia tuh kehilangan kepercayaan," katanya.

Ia menilai pemerintah seharusnya lebih fokus memperbaiki faktor-faktor yang menjadi perhatian pasar daripada bersikap defensif terhadap kritik.

"Daripada defensif dan menutupi realitas seakan semua baik-baik saja, kenapa gak fokus berbentuk ini?" ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Felicia mengingatkan bahwa pasar saham pada dasarnya selalu melihat prospek masa depan.

Karena itu, menurutnya, penurunan IHSG saat ini tidak hanya mencerminkan kondisi ekonomi hari ini, tetapi juga ekspektasi pelaku pasar terhadap beberapa tahun mendatang.

"At the end of the day, market is a forward looking machine. IHSG yang turun hari ini adalah gambaran ekonomi kita dalam 1-2 tahun," pungkas Felicia. 


Topik

Ekonomi IHSG indeks harga saham gabungan harga saham saham



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sampang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Ekonomi

Artikel terkait di Ekonomi