Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Dari Seremoni ke Refleksi, Cara MTsN 2 Kota Malang Memaknai Milad ke-48

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

10 - Apr - 2026, 18:04

Placeholder
Peringatan Milad ke-48 Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kota Malang dimanfaatkan sebagai ruang jeda untuk membaca kembali arah kebersamaan di lingkungan madrasah (ist)

JATIMTIMES - Peringatan Milad ke-48 Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kota Malang dimanfaatkan sebagai ruang jeda untuk membaca kembali arah kebersamaan di lingkungan madrasah. Halalbihalal yang digelar di masjid madrasah belum lama ini, tidak berhenti pada tradisi pasca-Idulfitri, tetapi bergerak menjadi forum yang mempertemukan berbagai lapisan pengalaman, mulai dari guru, tenaga kependidikan, hingga relasi kelembagaan yang selama ini terjalin.

Pertemuan tersebut menghadirkan pimpinan madrasah, jajaran guru, serta Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang. Hadirnya Kepala Kemenag Kota Malang Achmad Shampton bersama para pejabat struktural dan mantan kepala madrasah, menunjukkan bahwa ruang semacam ini menjadi titik temu antara pengalaman lama dan arah kebijakan yang terus berkembang. Relasi yang terbentuk tidak semata bersifat administratif, melainkan juga kultural, dengan pertukaran nilai dan cara pandang yang berlangsung secara lebih cair.

Baca Juga : Khutbah Jumat 10 April 2026: Saatnya Muhasabah, Sudahkah Ibadah Kita Tetap Terjaga?

Di tengah forum itu, tausiyah disampaikan oleh KH Imam Ma’ruf, seorang dai asal Kepanjen, Kabupaten Malang, yang dikenal aktif mengisi pengajian di berbagai komunitas. Ia menyoroti kecenderungan halalbihalal yang kerap terjebak pada formalitas. “Silaturahmi itu lahir dari hati yang bersih, bukan sekadar pertemuan,” ujarnya. 

Menurutnya, kebersamaan hanya memiliki makna ketika dibangun di atas kesadaran untuk menghapus prasangka dan membuka ruang saling percaya.

1

Penekanan pada dimensi batin tersebut bersinggungan dengan realitas keseharian di dunia pendidikan. Interaksi antara guru dan siswa, maupun antarsesama tenaga pendidik, tidak lepas dari potensi gesekan yang kerap tidak terlihat di permukaan. Dalam konteks itu, pesan tentang kejernihan hati menjadi relevan, terutama ketika institusi pendidikan dihadapkan pada tuntutan profesionalisme sekaligus kebutuhan menjaga relasi yang sehat.

Kepala Kemenag Kota Malang Gus Shampton, sapaan akrabnya, mengarahkan perhatian pada peran guru yang tidak berhenti pada aspek pengajaran. “Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membangun karakter melalui empati,” katanya. 

Ia menilai bahwa pendidikan yang hanya berorientasi pada capaian akademik berisiko mengabaikan sisi kemanusiaan yang justru menjadi fondasi penting dalam proses belajar. Empati, dalam pandangannya, bukan sekadar nilai tambahan, melainkan inti dari relasi pendidikan itu sendiri.

Pandangan tersebut memperlihatkan adanya dorongan untuk menggeser cara pandang terhadap keberhasilan lembaga pendidikan. Prestasi tidak lagi dilihat semata dari indikator angka atau capaian formal, tetapi juga dari kemampuan lembaga dalam membangun lingkungan yang sehat secara emosional dan sosial. Dalam konteks madrasah, hal ini menjadi penting karena pendidikan berbasis nilai keagamaan menuntut konsistensi antara ajaran dan praktik keseharian.

Sementara itu, Kepala MTsN 2 Kota Malang Mokhamad Amin Tohari melihat milad sebagai momentum untuk membaca perjalanan lembaga dari dalam. “Kebersamaan ini harus dijaga dengan keikhlasan dan saling memahami,” ujarnya.

Baca Juga : Targetkan 10 SSK Tingkat SD, Pemkot Kediri Perkuat Advokasi dan Sosialisasi Kependudukan

Ia juga menyinggung bahwa dinamika internal madrasah tidak lepas dari perbedaan latar belakang, beban kerja, hingga cara pandang yang beragam. Dalam situasi tersebut, keikhlasan menjadi faktor yang menentukan apakah perbedaan akan berujung pada konflik atau justru menjadi kekuatan kolektif.

Pengalaman para mantan kepala madrasah yang turut hadir juga menjadi bagian dari lanskap yang lebih luas. Mereka membawa perspektif tentang perubahan yang telah dilalui lembaga, sekaligus menjadi pengingat bahwa keberlanjutan madrasah tidak dibangun dalam satu periode kepemimpinan saja. Ada proses panjang yang melibatkan banyak pihak, dengan tantangan yang terus bergeser mengikuti perkembangan zaman.

Dalam konteks yang lebih luas, halalbihalal di lingkungan pendidikan seperti ini memperlihatkan bagaimana tradisi keagamaan berinteraksi dengan kebutuhan institusional. Ia tidak hanya menjadi ruang simbolik, tetapi juga medium untuk memperbarui komitmen bersama. 

"Di dalamnya, nilai-nilai seperti keikhlasan, empati, dan keterbukaan tidak sekadar disampaikan, tetapi diuji dalam praktik relasi sehari-hari di lingkungan madrasah," pungkasnya.


Topik

Pendidikan mtsn 2 kota malang milad mtsn 2 kota malang kemenag kota malang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sampang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan