Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Kala 300 Ribu Orang Menggali Kolam untuk Amangkurat I

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

25 - Feb - 2026, 11:05

Placeholder
Plered, abad ke-17: Sunan Amangkurat I meninjau pembangunan bendungan dan danau buatan Segarayasa di sekitar Keraton Plered. Proyek besar ini melibatkan pengerahan tenaga kerja dalam jumlah besar untuk membentuk sistem pertahanan air di pusat pemerintahan Mataram.(Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam dinamika sejarah Mataram Islam pada abad ke-17, pembangunan bukanlah sekadar ekspresi arsitektural atau pernyataan politik spasial, melainkan peneguhan simbolik atas kuasa seorang raja yang hendak menaklukkan alam sekaligus menjarakkan diri dari kekacauan yang melingkupinya. 

Maka ketika Sunan Amangkurat I, putra Sultan Agung, melanjutkan warisan kekuasaan ayahandanya, ia tidak hanya membangun istana baru di Plered, tetapi juga menggalang proyek-proyek raksasa berbasis air yang kelak akan menandai zaman pemerintahannya dengan ambivalensi antara kemegahan dan kehancuran. Salah satu yang paling monumental adalah pembangunan kolam dan bendungan Segarayasa, sebuah proyek raksasa yang disebut melibatkan hingga 300.000 jiwa.

Amangkurat

Panggung Kekuasaan dan Tumbuhnya Nafsu

Baca Juga : Berkah Ramadan, Beli Cat Paragon Langsung Bawa Hadiah di Graha Bangunan Blitar

Sunan Amangkurat I, lahir dengan nama Raden Mas Sayidin, adalah putra Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja terbesar Mataram Islam pada awal abad ke-17. Dari garis ayah, darahnya mengalir langsung ke trah pendiri Mataram, Ki Ageng Pamanahan, leluhur yang membuka hutan Mentaok dan menurunkan Panembahan Senapati, raja pertama Mataram. Lebih jauh ke atas, silsilah rohaninya tersambung kepada Ki Ageng Selo dan Sunan Kalijaga, menegaskan legitimasinya sebagai Panatagama dan Khalifatullah di tanah Jawa.

Ibunya, Ratu Mas Batang, dikenal sebagai permaisuri utama Sultan Agung dan dikisahkan masih berhubungan dengan keturunan bangsawan Kesultanan Demak. Jalur ini mengikat warisan politik Mataram dengan marwah Islam Jawa pesisir.

Sejak muda, Raden Mas Sayidin dibesarkan di lingkungan spiritual istana Kotagede. Ia dididik dan ditempa melalui pengembaraan ilmu agama ke pesisir utara, Kadilangu, bahkan hingga Tamasek dan Istanbul, sebelum kembali untuk menunaikan haji ke Mekkah.

Sejak belia, sang pangeran bukan sekadar penonton di halaman istana. Catatan Van Goens menyebutkan bahwa pada usia empat belas hingga lima belas tahun ia gemar menjelajahi wilayah Mataram dengan rombongan pengawal, bahkan menantang rakyat untuk bergulat demi memamerkan keperkasaannya.

Pada usia inilah ketertarikannya kepada perempuan mulai tampak, suatu perilaku yang pada masa itu kerap dianggap lumrah bagi bangsawan muda.

Tahun 1634, ketika usianya belum genap lima belas tahun, Sultan Agung mengatur perkawinannya dengan putri Pangeran Pekik dari Surabaya. Pernikahan itu bukan semata urusan cinta, melainkan kalkulasi politik untuk menundukkan bekas kerajaan Surabaya yang pernah menjadi pesaing utama Mataram.

Dari pernikahan tersebut kelak lahir Amangkurat II, sang penerus takhta. Namun stabilitas keluarga agung itu ternyata rapuh di bawah gelora pribadi yang terus tumbuh.

Amangkurat I

Segarayasa dan Ekspansi Proyek Raksasa

Gagasan membendung Sungai Opak dan membentuk danau buatan di Plered sebenarnya bukan orisinal dari Amangkurat I. Dalam catatan Babad Sangkala, pembangunan bendungan telah dimulai sejak 1565 J atau 2 Maret 1643, ketika Sultan Agung masih memegang tampuk kekuasaan. Bendungan awal ini menjadi cikal bakal kawasan istana baru yang kelak dikenal sebagai Keraton Plered. Dalam susunan kronologis versi Raffles, pembangunan ini tercatat pada sebelum 10 Maret 1566 J. Plered menjadi locus kekuasaan baru yang ditandai oleh tata ruang dengan elemen air yang integral.

Proyek air semakin masif ketika, menurut Babad Momana, pada tahun 1574 J (14 Desember 1651), dilakukan pembangunan bendungan besar di kawasan yang nantinya disebut Segarayasa. Pembangunan ini menunjukkan bahwa sistem pengairan dan kontrol air menjadi elemen pertahanan sekaligus kemewahan. Proyek ini tidak pernah berhenti. Pada tahun 1658, pengerjaan kembali dilanjutkan, bahkan pekerja dari Karawang dikerahkan untuk membantu pembangunan, sehingga mereka tak sempat menyemai dan menanam padi. Daghregister VOC, tertanggal 14 Maret 1659, mencatat bahwa kekurangan beras melanda akibat pengerahan tenaga kerja besar-besaran ini.

Jerih payah itu membuahkan perluasan danau. Pada 7 Juli 1659, menurut catatan Daghregister, Sunan bersama permaisurinya menaiki kereta menuju kolam yang baru selesai digali. Empat hari kemudian, kolam itu diberi nama Segarayasa, laut buatan, air yang dibentuk oleh kehendak manusia, sebuah simbol kekuasaan yang hendak menandingi cakrawala.

Segarayasa

300.000 Tenaga Kerja dan Pulau Buatan Raja

Namun puncak proyek air ini terjadi pada tahun 1661. Daghregister mencatat pada 12 September 1661 bahwa Raja sibuk menjadikan tempat tinggalnya sebuah pulau, dan untuk itu ia menyuruh 300.000 orang bekerja. Jumlah ini bukan saja mencengangkan, tetapi juga menggambarkan skala logistik dan kedigdayaan simbolik seorang raja yang memaksa rakyatnya membentuk lanskap demi ambisinya.

Proyek ini diawasi langsung oleh para penguasa pantai dan umbul-umbul setempat. Masing-masing bertanggung jawab atas sektor pekerjaan yang berbeda. Namun, bencana datang. Pada malam hari dalam musim penghujan 1661–1662, terjadi banjir besar yang menghantam Lumbung Besar dan menyapu Bendungan Besar, menyebabkan kelaparan di kalangan rakyat. Pekerjaan dihentikan, dan baru dapat dimulai kembali pada tahun 1663.

Daghregister bertanggal 28 Agustus 1663 mencatat rencana Raja untuk membuat kolam besar (kolam desar) di belakang istananya. Pada 5 September 1663, Raja kembali dilanda obsesi: ia hendak menggali batang air, membangun lanskap perairan yang kompleks. Tanggal 1 Oktober 1663, Daghregister mencatat bahwa proyek penggalian kolam besar Susuhunan, yaitu Segarayasa, dimulai kembali dan akhirnya selesai.

Kerja

Istana di Tengah Danau: Simbol Keterasingan

Baca Juga : Batas Maksimal Tukar Uang di PINTAR BI 2026 dan Cara Pesannya, Catat sebelum Kehabisan Kuota

Namun, apa yang dibangun dengan megah tidak selalu berbuah kenyamanan. Disebutkan bahwa setelah proyek itu rampung, Susuhunan tidak lagi begitu bersemangat menghibur diri dengan bermain perahu di kolam seperti sebelumnya. Ia, Sunan Amangkurat I, dikenal tertutup dan menjauhi khalayak. Maka kolam yang indah itu menjadi simbol keterasingan: istana di tengah danau, Sunan di tengah kesunyian.

Kesan tersebut dikonfirmasi oleh catatan kunjungan Abraham Verspreet pada 16 Oktober 1668. Ia menulis bahwa untuk mencapai alun alun, ia harus melewati jembatan yang membentang di atas parit yang mengelilingi istana. Catatan ini menegaskan bahwa kompleks keraton itu memang berdiri di atas pulau buatan yang terpisah dari lingkungan sekitarnya.

Model tata ruang semacam ini kemudian ditiru di Keraton Kartasura sebagai warisan spasial yang mengulang pola keterasingan, sebuah simbol arsitektural dari kekuasaan yang semakin absolut.

Urusan VOC

Rekayasa Alam dan Lanskap Kekuasaan

Penggunaan air dalam arsitektur kekuasaan Amangkurat I tidak semata-mata sebagai hiasan atau alat pertahanan, tetapi lebih sebagai manifestasi kehendak raja yang ingin menata ulang alam sesuai kehendaknya. Dari bendungan Sungai Opak yang dibangun tahun 1644, terbentuklah danau buatan yang sekaligus menjadi pelindung istana dari arah selatan dan timur. Tahun 1659, danau diperluas ke timur alun-alun. Setelah itu, bendungan lama dibobol. Pada tahun 1661, air diarahkan tidak hanya ke selatan dan timur, tetapi juga ke utara dan barat. Pekerjaan raksasa ini memerlukan 300.000 tenaga kerja paksa.

Namun bencana tak dapat dielakkan. Pada tahun 1584 J (27 Agustus 1661), banjir malam melanda. Selain menghancurkan bendungan, juga menyebabkan Lumbung Besar kehilangan pasokan beras. Kekurangan pangan menghantam rakyat. Baru pada 1663 pembangunan dilanjutkan.

Banjir

Mausoleum Ratu Malang dan Akhir Proyek Besar

Pembangunan terakhir yang tercatat pada masa pemerintahan Amangkurat I adalah mausoleum Ratu Malang di Gunung Kelir. Ratu Mas Malang wafat pada 1588 J (14 Juli 1665) dan tiga tahun kemudian, pada 1668, dibangunlah Antakapura, kompleks makam megah di sana, sebagaimana dicatat dalam Babad Momana.

Makam ratu malang

Segarayasa sebagai Cermin Zaman

Proyek Segarayasa dan bendungan sekitarnya menjadi penanda bagaimana kekuasaan Amangkurat I beroperasi dalam dimensi simbolik dan material. Ia tidak hanya membangun istana, tetapi juga lanskap kuasa yang menundukkan rakyat dan alam. Ia menciptakan pulau di tengah danau, bukan hanya untuk pertahanan, tetapi juga sebagai metafora keterasingan, keagungan, dan keterpisahan dari dunia yang terus bergolak.

Dengan membaca ulang Daghregister VOC, Babad Sangkala, dan Babad Momana, kita dapat melihat bagaimana historiografi membentuk narasi besar tentang kekuasaan, ambisi, dan kehancuran. Segarayasa bukan sekadar kolam, melainkan cermin zamannya yang digali dengan keringat ratusan ribu manusia. Tercatat sekitar 300.000 orang dikerahkan untuk menggali tanah demi membangun istana bagi seorang raja yang hendak menempatkan dirinya sebagai pusat dunia, berdiri di atas air, terpisah dalam kesunyian.

Amangkurat

*konten ini merangkum berbagai sumber dan memanfaatkan AI


Topik

Serba Serbi Amangkurat 1



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sampang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri