JATIMTIMES - Gemerlap lampu LED raksasa dan papan reklame digital di Times Square biasanya identik dengan pertunjukan Broadway, wisatawan dari berbagai negara, serta hiruk-pikuk kota metropolitan. Namun setiap Ramadan, suasananya berubah drastis. Hamparan sajadah membentang, barisan saf tersusun rapi, dan lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di jantung New York City.
Pada Kamis (20/2/2026), ribuan umat Muslim kembali memadati kawasan Broadway 46–47 untuk menunaikan salat Tarawih berjemaah. Pemandangan ini bukan lagi hal baru, tetapi tetap menghadirkan rasa haru yang sama setiap tahunnya. Kontras antara gemerlap dunia hiburan dan kekhusyukan ibadah justru menjadi daya tarik yang begitu kuat.
Baca Juga : Viral Kisah Pilu Perempuan Harus Operasi Cabut Kuku usai Nail Art Pertama
Bermula dari Inisiatif Komunitas, Kini Jadi Tradisi Tahunan
Salat Tarawih di Times Square pertama digelar pada 2022 sebagai inisiatif komunitas dakwah jalanan Way of Life SQ. Kala itu, jumlah jemaah masih ratusan. Banyak yang datang karena penasaran. Sebagian lagi ingin merasakan sensasi beribadah di ruang publik paling ikonik di dunia itu.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan ini berkembang pesat. Dari tahun ke tahun, jumlah jemaah terus meningkat. Jika awalnya hanya memenuhi satu sisi area, kini ribuan orang memadati lokasi yang telah diatur sesuai izin dan pengamanan setempat.
Video yang dibagikan oleh imam salat Tarawih di media sosialnya @dr.farajhasan memperlihatkan perkembangan tersebut secara nyata. Dalam dokumentasi itu tampak momen-momen dari Ramadan sebelumnya: ada tahun ketika suhu udara begitu dingin hingga napas para jemaah terlihat mengepul, namun mereka tetap berdiri rapat dalam saf.
Di tahun lainnya, cuaca lebih bersahabat dan jumlah peserta melonjak signifikan, menciptakan lautan sajadah yang memukau.
Iftar Gratis, Menghangatkan Suasana sebelum Tarawih
Kegiatan biasanya diawali dengan buka puasa bersama (iftar) gratis. Ratusan hingga ribuan paket makanan dibagikan kepada jemaah dan pengunjung. Suasana menjelang azan Magrib terasa hangat. Orang-orang yang tak saling mengenal duduk berdampingan, berbagi kurma, nasi, dan minuman.
Momen inilah yang sering membuat banyak orang tersentuh. Di tengah kota yang dikenal serba cepat dan individualistis, kebersamaan terasa begitu nyata. Tidak hanya Muslim, beberapa wisatawan dan warga lokal juga terlihat menyaksikan, bahkan ikut bertanya tentang makna Ramadan.
Ketika azan berkumandang, suasana berubah hening. Di bawah cahaya layar digital raksasa, barisan jemaah berdiri tegak. Imam memimpin salat dengan suara yang tenang namun tegas, sementara ribuan orang mengikuti dengan khusyuk.
Dari tahun ke tahun, pengelolaan acara semakin tertata. Relawan membantu mengatur saf, memastikan jalur pejalan kaki tetap terbuka, serta menjaga keamanan. Koordinasi dengan aparat setempat pun menjadi bagian penting agar kegiatan berjalan lancar.
Baca Juga : Jangan Salah Kaprah! Tidur Seharian saat Puasa Ramadan Ternyata Tak Menambah Pahala
Dalam unggahan yang viral, terlihat bagaimana jumlah jemaah semakin banyak dan barisan semakin panjang setiap Ramadan. Dokumentasi tersebut seolah menjadi arsip perjalanan spiritual komunitas Muslim New York bahwa tradisi ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan gerakan yang terus tumbuh.
Simbol Keberagaman dan Eksistensi Muslim di New York
New York City memiliki populasi Muslim lebih dari satu juta orang, menjadikannya salah satu komunitas Muslim terbesar di Amerika Serikat. Ramadan di kota ini selalu diwarnai berbagai kegiatan sosial, seperti pembagian takjil, penggalangan dana kemanusiaan, hingga kajian terbuka.
Tarawih di Times Square menjadi simbol kuat keberagaman dan kebebasan beragama. Di ruang publik paling terkenal di dunia, umat Muslim dapat mengekspresikan ibadahnya secara damai dan terbuka. Pemandangan ini juga menjadi pesan bahwa Islam hadir sebagai bagian dari mosaik budaya kota tersebut.
Bagi jemaah, pengalaman Tarawih di Times Square meninggalkan kesan mendalam. Ada rasa bangga, haru, sekaligus syukur. Beribadah di tempat yang setiap hari dilihat jutaan orang dari seluruh dunia itu memberi makna tersendiri.
Dari tahun ke tahun, satu hal yang tidak berubah adalah semangat kebersamaan. Meski cuaca berbeda, jumlah peserta berubah, dan dinamika kota terus bergerak, lantunan doa tetap menggema dengan pesan yang sama: Ramadan adalah tentang persatuan, harapan, dan cinta kasih.
Malam itu, Times Square tidak hanya dipenuhi cahaya lampu neon, tetapi juga cahaya iman. Dan seperti yang tergambar dalam video sang imam, tradisi ini terus hidup tumbuh lebih besar, lebih tertata, dan lebih menyentuh hati setiap tahunnya.
