Mural Malang The Glory Land Ditimpa, D’Kross hingga Terraces88 Pilih Mundur dari Festival Mbois 11
Reporter
Hendra Saputra
Editor
Nurlayla Ratri
21 - Aug - 2026, 07:38
JATIMTIMES - Polemik penimpaan mural bertuliskan “MALANG THE GLORY LAND” berbuntut panjang. Sejumlah musisi yang sebelumnya dijadwalkan tampil dalam rangkaian Festival Mbois 11 memilih mengambil sikap dengan mengundurkan diri dari gelaran tersebut.
Salah satunya d’Kross Official. Band yang lekat dengan kultur Arek Malang dan Aremania itu menyatakan tidak akan tampil dalam rangkaian Festival Mbois 11.
Baca Juga : Bikin Anak Lupa Gadget, Ratusan Layang-Layang Serbu Langit Karas Magetan
Road Manager d’Kross, Rahmat Mashudi Prayoga, menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap karya mural. Ia menilai karya tersebut memiliki keterikatan dengan identitas, sejarah, dan rasa memiliki masyarakat Malang.
“Menanggapi polemik terkait penimpaan mural “MALANG THE GLORY LAND”, d’Kross Official menyatakan sikap untuk mengundurkan diri dan tidak tampil dalam rangkaian Festival Mbois 11,” ujar Yoga.
Menurutnya, keputusan d’Kross bukan ditujukan untuk memperkeruh polemik yang tengah berkembang. Sikap tersebut lebih sebagai bentuk solidaritas kepada Aremania dan pihak-pihak yang memiliki ikatan emosional dengan mural “MALANG THE GLORY LAND”.
“Sebagai band yang lahir dan tumbuh bersama semangat Arek Malang dan Aremania, kami merasa perlu mengambil sikap sebagai bentuk penghormatan terhadap karya, identitas, sejarah, serta rasa memiliki yang melekat pada mural tersebut,” lanjutnya.
D’Kross menegaskan tetap memiliki kecintaan terhadap Kota Malang, Aremania, seni, musik, serta semangat kebersamaan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan mereka.
“Keputusan ini bukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan kami terhadap kawan-kawan Aremania serta seluruh pihak yang merasa memiliki ikatan dengan “MALANG THE GLORY LAND”,” kata Yoga.
“Kami tetap mencintai Malang, Aremania, seni, musik, dan semangat kebersamaan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan d’Kross,” imbuhnya.
Sikap serupa juga disampaikan Terraces88. Melalui akun Instagram resminya @terraces88, kelompok tersebut mengumumkan keputusan untuk tidak tampil dalam line-up Festival Mbois 11.
Baca Juga : Remiliterisasi di Era Prabowo, Peneliti Imparsial: Profesionalisme Militer Terancam Bergeser
“Kami Terraces88 berdasarkan pertimbangan, keseluruhan crew menyatakan untuk MEMILIH TIDAK TAMPIL / MUNDUR dari line-up festivalmbois. Langkah ini kami ambil dengan kesadaran penuh dan tanpa adanya opresi dari pihak luar,” tulisnya.
Sementara itu, musisi Wahyoe GV melalui akun Instagram resmi @wahyoegvdua juga menyatakan mundur dari agenda konser musik tersebut setelah bertemu langsung dengan pihak penyelenggara.
Ia sebelumnya memilih menunggu perkembangan polemik mural sebelum menentukan sikap. Setelah bertemu dengan ketua penyelenggara konser, AV kemudian menyampaikan keputusan untuk tidak tampil.
“Mohon maaf Yo rek....Kalo kemarin AV belum menyatakan mundur tidak ikut perform di acara Malang mboiz ....karena saya harus nunggu perkembangan bagaimana situasi kondisi perkembangan masalah mural....dan saya belum bertemu ketua penyelenggara konser .....tadi pagi Alhamdulillah....saya sudah bertemu langsung ....dan ngobrol serta menyampaikan mundur dikonser musik itu dg baik baik.....ya semoga konser musik itu berjalan dg baik, lancar dan sukses.....serta urusan mural terselesaikan dg baik.......wes ngunu ae Yo rek.......ayo kota Malang dijogo cekne aman dan tetep dadi kota sing wasyik... Salam Satu Jiwa,” tulisnya.
Rangkaian pengunduran diri tersebut menjadi perhatian di tengah polemik mural “MALANG THE GLORY LAND”. Bagi para musisi tersebut, keputusan untuk tidak tampil menjadi cara untuk menyampaikan sikap sekaligus menjaga hubungan emosional dengan identitas dan kultur masyarakat Malang.
Di sisi lain, mereka berharap persoalan yang muncul dapat diselesaikan secara baik-baik sehingga tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas dan tetap menjaga Malang sebagai kota yang aman, nyaman, serta memiliki ikatan kuat dengan seni dan budaya lokal.
