AS dan Iran Sepakat Hentikan Serangan, Bahas Sengketa Selat Hormuz di Doha

29 - Jun - 2026, 01:16

Ilustrasi bendera Iran dan AS. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan sepakat untuk menghentikan aksi saling serang yang sempat memicu ketegangan dalam beberapa hari terakhir. Kedua negara juga dijadwalkan kembali menggelar perundingan di Doha, Qatar, pada Selasa (30/6/2026), dengan fokus utama membahas persoalan di Selat Hormuz.

Informasi tersebut disampaikan seorang pejabat senior AS yang identitasnya dirahasiakan. Pernyataan itu pertama kali dilaporkan oleh Axios dan kemudian dikutip Anadolu Agency, Senin (29/6/2026).

Baca Juga : Kisah Thulaihah bin Khuwailid, Tokoh yang Pernah Mengaku Sebagai Nabi Lalu Bertaubat

Pejabat tersebut menyebut Washington telah memutuskan untuk menghentikan seluruh operasi militer terhadap Teheran.

"Kami memutuskan untuk menghentikan semua aktivitas kinetik," ujar pejabat senior AS tersebut kepada Axios, menggunakan istilah militer yang merujuk pada serangan atau tindakan ofensif.

Menurut sumber yang sama, pertemuan di Doha akan menjadi forum lanjutan bagi kedua negara untuk menyelesaikan perbedaan pandangan mengenai pengelolaan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.

Laporan Axios menyebutkan bahwa eskalasi terbaru antara AS dan Iran dipicu oleh perbedaan penafsiran terhadap nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) yang sebelumnya disepakati untuk mengakhiri konflik.

Dalam MoU yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni 2026, Iran berkomitmen mengupayakan keamanan pelayaran kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Amerika Serikat juga menyetujui pencabutan blokade laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

Sebelumnya, dalam pertemuan lanjutan di Swiss pekan lalu, Wakil Presiden AS JD Vance bersama delegasi Iran sepakat membentuk jalur komunikasi langsung atau hotline antara militer AS dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Saluran komunikasi itu dirancang untuk mempermudah koordinasi lalu lintas maritim di Selat Hormuz sekaligus mengurangi risiko kesalahpahaman yang dapat memicu konflik baru.

Baca Juga : Belis dalam Perceraian Adat Nusa Tenggara Timur: Antara Living Law, Kepastian Hukum, dan Rekonstruksi Hukum Nasional

Namun hingga Sabtu (27/6/2026), hotline tersebut belum beroperasi. Di sisi lain, Teheran kembali menegaskan bahwa seluruh kapal yang melintas di Selat Hormuz harus berkoordinasi dengan otoritas Iran.

Axios melaporkan bahwa pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa awalnya direncanakan digelar di Swiss dengan agenda utama membahas program nuklir Iran.

Namun meningkatnya ketegangan antara kedua negara membuat lokasi perundingan dipindahkan ke Doha, Qatar. Fokus pembahasan pun bergeser menjadi penyelesaian sengketa terkait Selat Hormuz yang belakangan menjadi sumber ketegangan baru.

Sementara itu, The Wall Street Journal (WSJ) pada Minggu (28/6/2026) waktu setempat melaporkan bahwa proses negosiasi lanjutan antara AS dan Iran sempat mengalami kebuntuan akibat kembali memanasnya hubungan kedua negara.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini menjadi jalur utama ekspor minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara di kawasan Timur Tengah menuju pasar global.

Karena perannya yang sangat vital terhadap pasokan energi dunia, setiap ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz kerap menjadi perhatian internasional. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi energi, memicu kenaikan harga minyak dunia, serta berdampak pada perekonomian global.