Anak Panah Ayat Suci yang Mengubah Perampok Kejam Jadi Ulama Besar
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Yunan Helmy
10 - May - 2026, 11:19
JATIMTIMES - Nama Fudhail bin Iyadh pernah menjadi momok paling menakutkan di jalur perdagangan Khurasan pada abad kedelapan. Di kawasan antara Abu Warda dan Sirjis, namanya dikenal sebagai pemimpin perampok yang tak segan menjarah para musafir dan kafilah dagang. Para pengelana bahkan gemetar hanya dengan mendengar namanya disebut.
Suatu malam, sekelompok pedagang bersiap melintasi lembah yang dikenal rawan penyergapan. Mereka sadar, kawasan itu kerap menjadi tempat operasi Fudhail dan gerombolannya. Di tengah kekhawatiran, para pedagang bermusyawarah di dalam kemah sebelum melanjutkan perjalanan.
“Sungguh, Fudhail bin Iyadh dan gerombolannya biasa melancarkan aksi di daerah ini. Apa yang harus kita lakukan?” tanya salah seorang di antara mereka.
Seorang yang lebih alim kemudian memberi usul agar mereka mempersiapkan panah sambil memohon perlindungan Allah melalui bacaan ayat suci Al-Qur'an. Ia berkata, “Kita memanah ke arah persembunyian mereka. Jika mengenai sasaran, kita lanjutkan perjalanan. Namun sebelum itu, mari membaca ayat-ayat Allah agar Dia menolong kita.”
Tanpa diketahui para pedagang, Fudhail dan kelompoknya sudah bersiap di balik gelap lembah untuk menyerang. Namun malam itu menjadi titik balik hidup sang perampok.
Pedagang pertama melepaskan panah sambil membaca Surah Al Hadid ayat 16 yang berbunyi, “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan kepada mereka.”
Ayat itu menghantam hati Fudhail lebih keras daripada anak panah. Tubuhnya bergetar hebat hingga jatuh pingsan. Anak buahnya mengira ia terkena panah, tetapi tak ada luka sedikit pun di tubuhnya.
“Aku telah terkena anak panah Allah!” teriak Fudhail sebelum kehilangan kesadaran.
Belum pulih dari guncangan batin itu, pedagang kedua kembali melesatkan panah sambil membaca Surah Adz Dzariyat ayat 50, “Maka segeralah kembali kepada Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”
Fudhail kembali menjerit. Ia merasa seluruh dosa dan kejahatan selama puluhan tahun seperti ditelanjangi oleh ayat tersebut. Ketika panah ketiga dilepaskan dengan lantunan Surah Az Zumar ayat 54 tentang perintah kembali kepada Tuhan sebelum datang azab, pertahanan batinnya runtuh sepenuhnya.
“Kalian semua pulanglah! Rasa takutku kepada Allah telah merasuk dalam jiwaku. Aku akan meninggalkan seluruh kejahatan yang selama ini kulakukan,” kata Fudhail kepada para pengikutnya.
Peristiwa malam itu mengubah jalan hidup seorang perampok menjadi ahli ibadah. Fudhail meninggalkan dunia kriminal dan berjalan menuju Makkah untuk bertobat. Dalam perjalanan, sebuah kisah lain terjadi. Sultan Harun al Rasyid disebut bermimpi mendengar suara yang memerintahkannya menyambut kedatangan Fudhail bin Iyadh karena ia telah kembali kepada Allah.
Keesokan harinya, orang-orang suruhan khalifah mencari Fudhail hingga akhirnya membawanya ke Baghdad. Di hadapan Sultan Harun al Rasyid, Fudhail menangis haru.
Baca Juga : Gak Perlu Panik, Ini Cara Cepat Mengurus Sertifikat Tanah yang Hilang
“Ya Rabb, dengan kemurahan dan keagungan-Mu, Engkau masih mencintai seorang hamba berdosa yang telah menjauh dari-Mu selama 40 tahun,” ucapnya penuh penyesalan.
Sejak saat itu, hidupnya berubah total. Ia meninggalkan masa lalu kelam dan menghabiskan waktunya untuk mendalami ilmu agama, terutama hadis. Tobatnya bukan sekadar ucapan, melainkan perubahan hidup yang nyata.
Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW disebutkan, “Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” Hadis riwayat Ibnu Majah itu seolah menjadi gambaran perjalanan hidup Fudhail bin Iyadh.
Ia kemudian menetap cukup lama di Kufah sebelum menghabiskan sisa hidupnya di Tanah Suci. Ketekunannya dalam ibadah membuat masyarakat menjulukinya sebagai ‘abid al haramain atau ahli ibadah di dua kota suci.
Fudhail berguru kepada banyak ulama besar pada zamannya seperti Sufyan ats Tsauri, Al A’masy, Manshur bin Mu’tamir, hingga Sulaiman at Taimy. Dari tangan para gurunya, ia tumbuh menjadi pakar hadis dengan sanad keilmuan yang luas.
Bahkan, sejumlah tokoh besar Islam di kemudian hari pernah menimba ilmu kepadanya. Imam Syafi’i, Abdullah bin Mubarak, Yahya bin al Qaththan hingga Abdurrahman bin Mahdi tercatat sebagai murid atau penerus ilmu yang terhubung dengan Fudhail bin Iyadh.
Fudhail wafat di Makkah pada Muharram 187 Hijriah atau sekitar tahun 803 Masehi. Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa hidayah dapat datang kepada siapa saja, bahkan kepada seseorang yang pernah tenggelam dalam dosa dan kejahatan paling kelam sekalipun.
Kisah pertobatan Fudhail bin Iyadh ini banyak tercatat dalam literatur klasik Islam, di antaranya Siyar A'lam an-Nubala', Hilyatul Auliya, hingga Shifatush Shafwah. Dalam berbagai riwayat tersebut, Fudhail digambarkan sebagai sosok yang berubah total setelah hatinya tersentuh lantunan ayat Alquran, hingga akhirnya dikenal sebagai ulama besar ahli hadis dan ahli ibadah di Tanah Suci.
